Modus Operandi yang Sangat Rapi
Chew menghubungi para korban melalui WhatsApp dan berpura-pura menjadi teman masa kecil mereka saat di Sekolah Dasar (SD). Setelah berhasil meyakinkan korban, Chew mulai melancarkan tipu dayanya. Ia berdalih sedang melakukan survei atau eksperimen sains untuk proyek sekolah. Chew kemudian meminta data pribadi korban, mulai dari nama, sekolah, tinggi badan, hingga foto mereka. Tak sampai di situ, ia juga meminta para korban menceritakan pengalaman mereka saat mengalami keracunan makanan atau diare.
Tindakan Bejat yang Sangat Sadis
Berdasarkan laporan Institute of Mental Health (IMH), Chew mengidap gangguan fetiche, fetishistic disorder. “Ia mendapat kepuasan seksual saat mendengar atau melihat remaja laki-laki mengalami kram perut dan diare,” demikian terungkap di persidangan. Dalam salah satu kasus, seorang siswa SMP diminta meminum berbagai cairan yang dikirimkan Chew ke rumahnya. Korban yang percaya bahwa Chew adalah teman SD-nya menuruti perintah tersebut lewat video call. Selama periode Januari hingga Agustus 2019, Chew mengirimkan enam paket berisi zat misterius seperti minyak goreng dan soda kue.
Dampak yang Sangat Berbahaya
Kasus ini baru terbongkar bertahun-tahun kemudian saat korban tidak sengaja bertemu dengan teman SD yang asli. Sadar dirinya telah ditipu, korban langsung mengonfrontasi Chew. Ngerinya lagi, Chew tidak kapok meski sempat ditangkap dan ponselnya disita polisi pada April 2020. Saat dibebaskan dengan jaminan, ia justru kembali mencari mangsa baru pada 2023. Salah satu korban bahkan sampai mengalami muntah-muntah hebat dan diare parah setelah meminum pil pencahar yang diberikan langsung oleh Chew.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Jaksa penuntut umum menegaskan bahwa kelainan seksual yang diidap Chew tidak bisa dijadikan alasan untuk meringankan hukuman. Pasalnya, Chew sepenuhnya sadar bahwa tindakannya tersebut melanggar hukum dan norma moral. Diketahui, Chew juga pernah dipenjara selama 3 tahun pada 2015 silam atas kasus serupa. Kasus ini menjadi pengingat bahwa kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur harus ditangani dengan serius dan tidak dapat ditolerir.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8546015/pria-usia-30-an-dipenjara-gegara-fetish-lihat-orang-diare-puluhan-siswa-smp-jadi-korban, without altering the facts of the original article.