Rasa malu yang mulai pudar di masyarakat menjadi perhatian serius bagi pakar dan ulama. Menurut Tgk H Akmal Abzal SHI MH, pakar dari Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Alumni Dayah (DPP ISAD) Aceh, kehilangan rasa malu dapat menyebabkan merosotnya akhlak dan meningkatnya kemaksiatan. “Rasa malu adalah salah satu cabang dari iman,” ujarnya, mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Dengan demikian, penting bagi umat Islam untuk menghidupkan kembali sifat malu sebagai benteng akhlak dan iman.
Pudarnya Rasa Malu di Tengah Masyarakat
Pakar ISAD Aceh, Tgk H Akmal Abzal SHI MH, mengingatkan bahwa rasa malu merupakan salah satu akhlak paling mulia yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia. Sifat tersebut tidak hanya menjaga kehormatan pribadi, tetapi juga menjadi penghalang seseorang untuk melakukan dosa dan kemaksiatan. Rasulullah SAW bersabda, “Malu adalah salah satu cabang dari iman,” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW juga bersabda, “Sesungguhnya di antara perkataan para nabi terdahulu yang masih dikenal manusia adalah: apabila engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu” (HR. Bukhari).
Apa yang Terjadi Jika Rasa Malu Hilang?
Menurut Tgk Akmal Abzal, jika rasa malu hilang, seseorang akan kehilangan kendali moral sehingga tidak lagi merasa bersalah melakukan berbagai kemungkaran. Imam Al-Ghazali menyebut rasa malu sebagai buah dari hidupnya hati. Selama hati masih hidup, rasa malu akan tetap menjadi penjaga akhlak. Sebaliknya, ketika hati mulai mati, kemaksiatan akan dianggap sesuatu yang biasa. Dalam Islam, rasa malu memiliki dua dimensi, yaitu malu kepada Allah SWT dan malu kepada sesama manusia.
Mengapa Rasa Malu Penting?
Rasa malu penting karena menjadi benteng akhlak dan iman. Dengan memiliki rasa malu, seseorang akan menjauhi maksiat dan tidak melakukan perbuatan yang dibenci Allah SWT. Rasa malu juga menjadi penghalang seseorang untuk melakukan dosa dan kemaksiatan. Oleh karena itu, umat Islam diingatkan untuk menghidupkan kembali sifat malu sebagai bagian dari keimanan dan benteng menjaga kehormatan diri.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Kedepannya, umat Islam harus terus menghidupkan kembali sifat malu sebagai benteng akhlak dan iman. Dengan demikian, kita dapat mencegah merosotnya akhlak dan meningkatnya kemaksiatan di masyarakat. Oleh karena itu, kita harus terus meningkatkan kesadaran akan pentingnya rasa malu dan berusaha untuk menghidupkan kembali sifat tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://aceh.tribunnews.com/tafakur/1034425/pakar-isad-aceh-ungkap-ancaman-besar-di-balik-pudarnya-rasa-malu-masyarakat, without altering the facts of the original article.