Saham BMRI Turun Drastis: Mengapa Harga Bisa Menyentuh Level Terendah Ini?
Berita Hari Ini β 27 April 2026 | Bank Mandiri (BMRI) kembali menjadi sorotan utama di pasar modal Indonesia setelah harga sahamnya menembus level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan nilai ini memicu perbincangan hangat di kalangan investor, analis, dan media keuangan mengenai penyebab di balik pergerakan harga serta prospek jangka panjang perusahaan yang menjadi emiten dengan aset terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Harga Saham BMRI Mendekati Level Terendah
Sejak awal kuartal pertama 2026, harga saham BMRI mengalami penurunan konsisten, diperkirakan dapat mencapai titik terendah pada akhir April. Pada tanggal 27 April 2026, harga penutupan tercatat di kisaran Rp5.200 per lembar, menurun sekitar 12% dibandingkan harga penutupan pada akhir Desember 2025. Analis pasar menyebutkan bahwa pergerakan ini dipengaruhi kombinasi faktor makroekonomi, sentimen negatif terhadap sektor perbankan, serta aksi jual agresif oleh investor institusional asing.
Tekanan Penjualan oleh Investor Asing
Data internal bursa menunjukkan bahwa pada minggu terakhir April, aliran keluar dana asing dari saham BMRI mencapai Rp1,8 triliun. Investor asing, yang selama ini menjadi pemegang saham signifikan, tampaknya mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih stabil di tengah ketidakpastian kebijakan moneter. Penurunan minat ini memperparah tekanan jual, terutama pada sesi perdagangan pagi ketika likuiditas relatif rendah.
- Net outflow dana asing: Rp1,8 triliun
- Penurunan kepemilikan asing: dari 21,5% menjadi 18,9% dalam tiga bulan terakhir
- Volume perdagangan harian menurun 27% dibandingkan rataβrata bulanan
Aset Terbesar di Bursa Efek Indonesia
Meski harga sahamnya turun, fundamental BMRI tetap kuat. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan pada akhir 2025, total aset bank mencapai Rp2.829,95 triliun, menjadikannya emiten dengan aset terbesar di BEI. Posisi ini didukung oleh jaringan luas cabang, portofolio kredit yang diversifikasi, serta peran strategis dalam pembiayaan infrastruktur nasional.
Berikut ringkasan profil keuangan BMRI per 31 Desember 2025:
| Item | Nilai (Rp Triliun) |
|---|---|
| Total Aset | 2,829,95 |
| Total Kewajiban | 2,511,30 |
| Ekuitas | 318,65 |
| ROA | 1,45% |
| ROE | 14,2% |
Keunggulan aset ini memberikan ruang manuver bagi bank untuk memperkuat likuiditas dan meningkatkan penyaluran kredit, terutama di sektor UMKM dan infrastruktur yang menjadi prioritas pemerintah.
Pandangan Analyst dan Rekomendasi
Berbagai lembaga riset memberikan pandangan yang beragam. Sebagian menilai bahwa penurunan harga menciptakan peluang beli bagi investor jangka panjang yang mengincar valuasi lebih rendah dibandingkan rataβrata historis. Sementara itu, beberapa analis mengingatkan bahwa volatilitas jangka pendek tetap tinggi akibat ketidakpastian kebijakan suku bunga dan potensi penurunan kualitas kredit di tengah inflasi yang masih di atas target.
- Positif: Valuasi P/E saat ini berada di kisaran 7,5 kali, jauh di bawah rataβrata 5βtahun (β9,8 kali).
- Negatif: Risiko penurunan NPL (NonβPerforming Loan) jika ekonomi melambat.
- Rekomendasi: Beli pada level Rp5.000βRp5.300 dengan target jangka menengah Rp6.200 dalam 12β18 bulan.
Secara keseluruhan, meskipun saham BMRI berada dalam fase penurunan harga, fundamental perusahaan tetap solid berkat posisi aset terbesar di pasar saham Indonesia. Investor yang mampu menahan fluktuasi jangka pendek dan fokus pada prospek pertumbuhan aset serta kebijakan kredit pemerintah dapat menemukan nilai yang menarik di tengah koreksi pasar.