Transformasi Karier Lulusan SMK: Dari Ruang Kelas Menuju Dunia Industri Berpenghasilan Tinggi di Era Digital
KompetitifMembangun Portofolio Sejak SMK: Strategi Efektif Menarik Perhatian Perusahaan Besar dan Meningkatkan Peluang Karier Profesional
KompetitifSepakbola memang tak pernah sepi, bahkan di luar jadwal FIFA. Di Grup WhatsApp Geng Makassar, diskusi tentang sepakbola terus berlangsung. Warkop dan grup WhatsApp menjadi sarana berkumpulnya penggemar sepakbola, termasuk Geng Makassar yang berdiri sejak Agustus 2020, atau 26 tahun silam.
Momen Penentu di Grup WhatsApp
Menjelang malam, Minggu (12/7/2026), suasana Grup WhatsApp Geng Makassar berubah. Perdebatan tentang kartu merah Swiss mulai mereda. Perdebatan tentang gol Norwegia yang dianulir VAR juga perlahan kehilangan tenaga. Arena bergeser. Bukan lagi membahas siapa yang dirugikan. Melainkan siapa yang akan menjadi juara dunia.
Pemantik diskusi kali ini adalah Najib Latandang, lelaki gaek yang bukan sekadar penikmat sepakbola. Dia pelaku, pemain hebat, dan legenda hidup PSM Makassar. Dengan tenang Najib Latandang membuka menu diskusi. âIni banyak teman-teman chat saya tanya kira-kira siapa yang baik untuk dipegang dalam semifinal ini. Saya jawab saja, pakai feeling saja. Karena empat semifinalis adalah tim terbaik Piala Dunia 2026. Semuanya papan atas ranking FIFA dan semuanya pernah menjadi juara dunia.â
Tiki Taka di Grup WhatsApp
Kalimat itu menarik. Setelah seharian memperdebatkan data VAR dan rekaman video, Najib justru mengembalikan prediksi kepada sesuatu yang sangat manusiawi, feeling. Seolah-olah statistik akhirnya memiliki batas. Lalu intuisi mengambil alih. Subhan Mappaturung seakan mengerti arah postingan Najib Latandang. Seketika, Subhan Mappaturung menyambar umpan manis itu, âFarid M. Ibrahim Tidak suka pakai feeling, Coach.â
Operan Subhan Mappaturung juga ciamik. Tiki taka. Dia juga bukan pendekar sembarangan. Dia sudah malang melintang di puluhan Group WhatsApp. Dia bukan pengamat kaleng-kaleng. Dia pelaku usaha, direktur perusahaan terkemuka di Indonesia. Kalimat yang dioper Subhan Mappaturung itu memang pendek. Namun cukup menggambarkan pertarungan dua cara berpikir. Satu kubu mempercayai intuisi. Kubu lain menghendaki argumentasi.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Diskusi di Grup WhatsApp Geng Makassar menunjukkan bahwa sepakbola tidak hanya tentang pertandingan di lapangan. Tapi juga tentang bagaimana penggemar sepakbola berkumpul, berdiskusi, dan berbagi pendapat. Ini menunjukkan bahwa sepakbola memiliki dampak yang besar pada masyarakat, tidak hanya sebagai olahraga tapi juga sebagai sarana berkumpul dan berbagi.
Dengan demikian, sepakbola akan terus menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia. Penggemar sepakbola akan terus berkumpul, berdiskusi, dan berbagi pendapat tentang sepakbola, baik di lapangan maupun di luar lapangan.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Namun, perjalanan sepakbola masih panjang. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi, baik di lapangan maupun di luar lapangan. Penggemar sepakbola harus terus mendukung tim kesayangan mereka, baik di stadion maupun di depan layar televisi. Dan yang terpenting, sepakbola harus terus menjadi sarana berkumpulnya penggemar, baik di warkop maupun di grup WhatsApp.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://makassar.tribunnews.com/news/1843914/sepakbola-menolak-sepi-tak-pernah-kering-dari-warkop-ke-grup-whatsapp, without altering the facts of the original article.