Setelah 30 Tahun, Marshel Widianto Akhirnya Peluk Ibu dengan Perasaan Dalam
Marshel Widianto, seorang atlet yang pernah berkompetisi di tingkat internasional, akhirnya menemukan keberanian untuk memeluk ibunya dengan perasaan dalam setelah 30 tahun. Ia menggambarkan bahwa kebiasaan gengsi anak-anak pada masa lalunya membuatnya sulit untuk mengekspresikan perasaan cinta dan kasih sayang terhadap ibunya.
Pertama Kali Memeluk Ibu dengan Perasaan Dalam
Marshel mengungkapkan bahwa ia pernah merasa tidak nyaman saat ingin memeluk ibunya karena kebiasaan gengsi anak-anak yang telah dipelajarnya. Ia mengatakan bahwa ia harus bisa menjebol gengsi yang telah menjadi tembok besar itu sebelum bisa mengekspresikan perasaannya.
“Ya karena kalau orang susah kan yang dipikirin cari uang, nasi, makan gitu. Jadi daripada peluk erat doang tapi kalau asam lambung naik kan tetep aneh gitu kan rasanya,” kata Marshel dalam wawancara.
Masih ingat wawancara ini, Marshel mengatakan bahwa ia sudah memiliki keberanian untuk memeluk ibunya. Ia mengaku bahwa ia ingin bilang terima kasih kepada ibunya, tetapi ia merasa bahwa itu adalah hal yang sulit.
“Pengin bilang terima kasih sebenarnya. Cuma ya gimana ya, berat tuh karena dengan kondisi sekarang yang aku iniin ya, ada hal-hal di pikiranku kayak pas waktu tadi Mam,” kata Marshel.
Mengapa Anak-Anak Sering Mengalami Gengsi
Marshel mengatakan bahwa anak-anak sering kali mengalami gengsi karena mereka harus mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup. Ia mengatakan bahwa hal ini membuat mereka merasa tidak nyaman untuk mengekspresikan perasaan cinta dan kasih sayang terhadap keluarga.
“Nah pas waktu kemarin aku mau coba untuk nerobos tembok itu, ya kelihatan banget dari videonya masih agak kaku karena itu pertama kalinya aku beraniin diri untuk coba nerobos ya manjat tembok itulah,” ungkap Marshel.
Dampak Gengsi Pada Anak-Anak
Gengsi pada anak-anak dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, seperti kesulitan mengekspresikan perasaan cinta dan kasih sayang, kesulitan membina hubungan yang harmonis dengan keluarga, dan kesulitan menghadapi stres dan tekanan hidup.
Akhirnya, Marshel menggambarkan bahwa ia telah menemukan keberanian untuk memeluk ibunya dengan perasaan dalam setelah 30 tahun. Ia mengatakan bahwa ini adalah suatu proses yang sulit, tetapi ia merasa bahwa ia telah berhasil menjebol gengsi yang telah menjadi tembok besar itu.
Demikian informasi tentang Marshel Widianto yang akhirnya menemukan keberanian untuk memeluk ibunya dengan perasaan dalam setelah 30 tahun. Semoga informasi ini dapat membantu kita memahami lebih baik tentang pentingnya mengekspresikan perasaan cinta dan kasih sayang terhadap keluarga.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://hot.detik.com/celeb/d-8608681/marshel-widianto-peluk-ibu-setelah-umur-30-tahun-perasaannya-dalam-banget, without altering the facts of the original article.