Transformasi Karier Lulusan SMK: Dari Ruang Kelas Menuju Dunia Industri Berpenghasilan Tinggi di Era Digital
KompetitifMembangun Portofolio Sejak SMK: Strategi Efektif Menarik Perhatian Perusahaan Besar dan Meningkatkan Peluang Karier Profesional
KompetitifSiswa Sukabumi Harus Arungi Sungai Cimandiri demi Sekolah, Warga Minta Solusi
Siswa Sukabumi harus menyeberangi Sungai Cimandiri menggunakan perahu karet demi bisa menuntut ilmu di sekolah. Kondisi ini terjadi karena jembatan gantung utama yang menjadi urat nadi aktivitas warga hancur total diterjang banjir bandang pada 28 Desember 2025. Siswa seperti Elsa (11) dan adiknya Fahri (10), siswa SDN Kebonjati, sudah terbiasa menyeberangi sungai dengan perahu karet.
Elsa dan adiknya Fahri setiap hari harus menyeberangi Sungai Cimandiri dengan perahu karet untuk bisa bersekolah. “Tidak takut, saya sama adik sudah biasa. Inginnya ada jembatan biar bisa berangkat sekolah enggak perlu naik perahu lagi,” ungkap Elsa sembari menggandeng erat tangan adiknya di atas lambung perahu hitam bertuliskan “TNI AL” itu.
Apa yang Terjadi?
Suasana pagi di pinggiran Sungai Cimandiri, Kampung Leuwidinding, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tampak berbeda pada Senin (13/7/2026). Di tengah hiruk-pikuk hari pertama tahun ajaran baru, puluhan anak sekolah berseragam rapi harus mengantre untuk menyeberangi sungai. Mereka harus bertaruh nyawa menaiki perahu karet demi bisa menuntut ilmu.
Alternatif lain sebenarnya ada, namun ongkosnya adalah waktu dan materi. Ai Nurhayati (16), siswi SMK Maarif NU Al-Fathonah, membeberkan bahwa jika ada kerabat yang bisa mengantar dengan sepeda motor, ia harus memutar jalan. “Nambah waktu paling 30 menit kalau memutar,” keluhnya.
Mengapa dan Dampak
Krisis aksesibilitas ini telah berlangsung selama lebih dari tujuh bulan. Sejak jembatan gantung utama hancur, perahu karet bantuan dari BPBD hingga kini digantikan oleh unit milik TNI AL menjadi satu-satunya penyambung asa warga. Penggunaan yang tanpa henti membuat fasilitas darurat ini kerap mengalami aus dan kerusakan.
Kepala Desa Tanjungsari, Dilah Habillah, menegaskan bahwa pihak pemerintah desa telah berulang kali mengajukan perbaikan jembatan kepada pihak terkait, namun hingga kini lampu hijau belum juga menyala. “Jembatan ini sangat vital. Kalau pakai jalan memutar jaraknya lebih dari enam kilometer. Ada juga akses jalan lain, tapi harus melewati area pertambangan yang cukup berisiko,” jelas Dilah.
Apa artinya ini ke depan? Jika jembatan tidak segera dibangun, maka warga akan terus mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk anak-anak yang harus menyeberangi sungai untuk bersekolah. Ini akan berdampak pada kualitas pendidikan dan ekonomi warga.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Warga Jampangtengah kini hanya bisa berharap, janji infrastruktur baru bisa segera terealisasi sebelum arus Cimandiri kembali mengamuk. Pihak Koarmada TNI AL telah meninjau lokasi dan sedang mengupayakan pengajuan pembangunan jembatan.
Harapan warga adalah semoga jembatan baru dapat dibangun secepatnya untuk memudahkan aksesibilitas dan meningkatkan kualitas hidup warga. Dengan demikian, anak-anak dapat bersekolah dengan aman dan nyaman, tanpa harus menyeberangi sungai yang berisiko.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/jabar-region/1178410/nestapa-warga-pelosok-sukabumi-harus-bertaruh-nyawa-arungi-sungai-cimandiri-demi-berangkat-sekolah, without altering the facts of the original article.