**Teknologi AI Mengancam Identitas Manusia: Apakah Anda Sudah Siap Menghadapi Kehidupan Digital?** **Momen Penentu di Menit Akhir** Seorang pegawai di Hong Kong telah menjadi korban penipuan yang menggunakan teknologi AI untuk menciptakan wajah palsu yang sangat realistis. Dalam pengadilan video, rekan-rekannya tidak menyadari bahwa mereka berbicara dengan deepfake yang dihasilkan oleh AI. Wajah palsu ini semakin sulit dibedakan dari wajah manusia asli, sehingga membuat penipuan semakin sulit terdeteksi. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Amy Dawel, seorang psikolog di Universitas Nasional Australia (ANU), menemukan bahwa khalayak umum sulit mengenali wajah ciptaan AI. Studi ini menunjukkan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Hal ini karena algoritma AI cenderung mengambil rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah yang digunakan untuk pelatihannya, sehingga wajah ciptaan AI terlihat lebih rata-rata, atau hiperrata-rata, dibandingkan dengan wajah manusia. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Dampak dari kejadian ini sangat besar, kata Dawel. “Kita benar-benar buruk dalam mengenali wajah AI saat ini,” katanya. Penelitian menunjukkan bahwa penipuan yang menggunakan AI akan semakin banyak, sehingga membuat kita semua harus siap menghadapi kehidupan digital yang semakin kompleks. “Baik itu penipuan identitas, atau di situs kencan, atau menargetkan rekening bank kita,” kata Dawel. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Dalam sebuah studi yang diterbitkan pada Juni di jurnal PNAS, Dawel dan rekan-rekannya di Australia, Kanada, dan Skotlandia menguji pendekatan baru untuk melatih orang. Mereka menemukan bahwa pelatihan ini memperlihatkan sekitar 100 wajah kepada para respondenâsetengahnya wajah asli dan setengahnya lagi wajah ciptaan AI. Mereka diminta menilai setiap wajah berdasarkan enam karakteristik keseluruhan: kekhasan, daya ingat, ekspresivitas, simetri, proporsionalitas, dan daya tarik. Menurut Dawel, wajah manusia cenderung lebih khas, mudah diingat, dan ekspresif, sehingga dapat dibedakan dari wajah ciptaan AI. **MENGAPA & DAMPAK** Kita harus siap menghadapi kehidupan digital yang semakin kompleks karena penipuan yang menggunakan AI akan semakin banyak. Penelitian menunjukkan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Hal ini karena algoritma AI cenderung mengambil rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah yang digunakan untuk pelatihannya, sehingga wajah ciptaan AI terlihat lebih rata-rata, atau hiperrata-rata, dibandingkan dengan wajah manusia. **PEMBUKA** Teknologi AI semakin canggih dan dapat digunakan untuk menciptakan wajah palsu yang sangat realistis. Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Amy Dawel, seorang psikolog di Universitas Nasional Australia (ANU), menemukan bahwa khalayak umum sulit mengenali wajah ciptaan AI. Dampak dari kejadian ini sangat besar, kata Dawel. “Kita benar-benar buruk dalam mengenali wajah AI saat ini,” katanya. **KESIMPULAN** Kita harus siap menghadapi kehidupan digital yang semakin kompleks karena penipuan yang menggunakan AI akan semakin banyak. Penelitian menunjukkan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Kita harus belajar untuk mengenali wajah ciptaan AI dan menghindari penipuan yang menggunakan teknologi AI.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c2dkjed688ro?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.