Tottenham Terpuruk: Pochettino Ungkap Kesedihan dan Ancaman Degradasi
Berita Hari Ini – 01 Mei 2026 | Mauricio Pochettino, mantan pelatih Tottenham Hotspur yang memimpin klub selama enam musim (2014-2019), kembali menyoroti kondisi klub yang kini berada di posisi ke-17 Premier League. Dalam sebuah wawancara eksklusif yang dilansir oleh ESPN, Pochettino mengaku sangat sedih melihat Tottenham terpuruk, terutama setelah masa-masa kompetitif yang ia bangun bersama tim.
Sejarah Singkat Era Pochettino
Selama masa kepelatihannya, Pochettino berhasil mengantarkan Spurs ke final Liga Champions UEFA 2019 dan menancapkan tim dalam persaingan ketat di papan atas Premier League. Ia juga mengatasi berbagai tantangan, termasuk pembangunan pusat latihan baru, pembangunan stadion yang sedang dalam tahap renovasi, serta keterbatasan dana transfer. Pochettino mengingat bahwa klub sempat melewati 18 bulan tanpa satu pun pembelian pemain, sebuah rekor yang tetap berdiri di liga Inggris.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kerja keras staf, kebijakan pengembangan pemain muda, dan filosofi bermain menyerang yang menjadi ciri khasnya. Meskipun tidak berhasil meraih gelar liga, era Pochettino tetap dianggap sebagai periode paling kompetitif bagi Tottenham dalam satu dekade terakhir.
Kondisi Saat Ini
Setelah kepergian Pochettino, Tottenham mengalami ketidakstabilan di kursi pelatih. Klub telah menempatkan tujuh pelatih permanen berbeda, termasuk Roberto De Zerbi yang kini memimpin tim dengan empat pertandingan tersisa musim 2024/2025. De Zerbi berusaha menghindari degradasi, namun performa tim masih jauh dari harapan. Spurs bahkan sempat memenangkan Liga Europa di bawah Ange Postecoglou pada musim sebelumnya, namun kegagalan di kompetisi domestik membuat mereka terperangkap di zona degradasi.
Menurut laporan, Tottenham kini harus bersaing ketat dengan klub-klub lain yang berada di zona aman. Posisi ke-17 menempatkan mereka hanya selangkah dari zona degradasi, memaksa manajemen dan pemain untuk berjuang keras demi menyelamatkan tempat di Premier League.
Pochettino Menyuarakan Kepedulian
Dalam podcast “The Overlap”, Pochettino menyatakan, “Ini sangat menyedihkan. Saya sangat mencintai Tottenham, klub ini akan selalu menjadi bagian penting dalam hidup saya, baik sebagai pelatih maupun sebagai pribadi. Saya tahu orang-orang di dalam klub dan para penggemar sedang menderita.” Ia menekankan rasa empatinya terhadap staf, pemain, dan suporter yang merasakan dampak penurunan performa.
Pochettino juga menegaskan bahwa meskipun klub memiliki dana, alokasi tersebut tidak cukup untuk menutup kesenjangan kompetitif pada tahap akhir kompetisi. “Kami bersaing, tetapi selalu kurang di langkah terakhir,” ujarnya.
Masa Depan Pochettino dan Tottenham
Setelah mengakhiri masa kepelatihan di Spurs, Pochettino kini memimpin Tim Nasional Amerika Serikat menjelang Piala Dunia. Meskipun fokusnya berada di panggung internasional, ia tidak menutup kemungkinan kembali ke Premier League di masa depan. “Suatu hari nanti, ya. Saya sangat menyukai Inggris. Profil saya, baik sebagai manusia maupun pelatih, sangat cocok dengan Premier League,” tuturnya.
Untuk Tottenham, tantangan terbesar tetap menyelamatkan diri dari degradasi. Manajemen klub harus memastikan stabilitas kepelatihan, memperkuat skuad melalui transfer yang tepat, dan memanfaatkan potensi pemain muda yang telah dibangun pada era Pochettino. Jika tidak, risiko terjatuh ke divisi lebih rendah akan semakin nyata, menambah beban finansial dan reputasi klub.
Dengan tekanan yang terus meningkat, dukungan para suporter menjadi faktor penting. Seperti yang disampaikan Pochettino, “Saya sangat mencintai Tottenham, klub ini akan selalu menjadi bagian penting dalam hidup saya.” Harapan masih terbuka bagi Spurs untuk bangkit, namun pekerjaan yang harus diselesaikan tidaklah mudah.