Trump Iran nuklir: Presiden AS Marah atas Proposal Iran, Siapkan Balasan Keras
Berita Hari Ini – 29 April 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menunjukkan kemarahan yang jelas setelah menerima proposal gencatan senjata terbaru yang diajukan oleh Iran. Menurut sumber internal Gedung Putih, dokumen tersebut dinilai tidak memadai karena tidak menyentuh isu paling sensitif: program nuklir Tehran.
Dalam pertemuan tertutup bersama tim penasihat pada Senin, 27 April 2026, Trump tidak langsung menolak proposal, namun menegaskan bahwa Iran tidak menunjukkan itikad baik. Ia menyoroti bahwa Tehran belum bersedia menghentikan pengayaan uranium maupun berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Karena itu, pemerintah AS mulai menyiapkan proposal tandingan dalam hitungan hari ke depan.
Pernyataan Resmi Gedung Putih
Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan bernegosiasi melalui media. “Kami sudah jelas soal garis merah kami,” ujarnya. Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga menambahkan bahwa proposal Iran tidak dapat diterima karena mengabaikan program nuklir.
Media internasional melaporkan bahwa Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan pengakhiran konflik, namun menunda pembahasan program nuklir ke tahap selanjutnya. Penolakan tersebut memicu ketegangan baru di antara kedua negara.
Tekanan Ekonomi dan Dampaknya
Sejak blokade yang diberlakukan Amerika Serikat pada 13 April, ekspor minyak Iran mengalami gangguan signifikan. Enam kapal tanker dilaporkan kembali ke pelabuhan asal akibat pembatasan tersebut. Akibatnya, stok minyak Iran melonjak drastis. Data perusahaan analitik energi Kpler mencatat cadangan minyak Iran meningkat dari 4,6 juta barel sebelum perang menjadi sekitar 49 juta barel, mendekati kapasitas maksimum penyimpanan sebesar 95 juta barel.
Para analis memperingatkan bahwa jika tekanan berlanjut, Iran dapat kehabisan ruang penyimpanan dalam kurang dari dua minggu, menambah beban logistik dan ekonomi negara tersebut.
Reaksi Trump di Media Sosial
Lewat platform Truth Social, Trump mengingatkan Iran untuk “bertindak cerdas” dalam menanggapi kesepakatan nuklir. Ia menulis, “Iran tidak dapat mengatur diri mereka sendiri. Mereka tidak tahu bagaimana menandatangani kesepakatan non-nuklir. Mereka sebaiknya segera bertindak cerdas!” Foto AI yang menyertai pernyataan menampilkan Trump dengan jas hitam, kacamata hitam, memegang senapan di latar belakang ledakan di Iran, lengkap dengan teks “No More Mr. Nice Guy!”
Pernyataan itu muncul setelah Trump menilai Iran berada dalam “keadaan kolaps” dan meminta pembukaan kembali Selat Hormuz sesegera mungkin. Ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai komunikasi langsung dengan Tehran, dan tidak ada konfirmasi resmi dari pihak Iran.
Latar Belakang Konflik dan Upaya Mediasi
Pertempuran gabungan antara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 memicu serangkaian balasan rudal dan drone dari Tehran ke Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Gencatan senjata sementara yang diumumkan pada 7 April awalnya berlaku dua minggu, kemudian diperpanjang tanpa batas waktu atas permintaan Pakistan sebagai mediator.
Negosiasi damai di Islamabad pada 11-12 April berakhir tanpa kesepakatan. Upaya mediasi Pakistan, Oman, dan Rusia untuk mendukung fokus pada pembukaan Selat Hormuz sementara menunda isu nuklir menjadi titik kritis. Iran tampaknya mengadopsi strategi yang mengingat kegagalan perjanjian nuklir 2015 (JCPOA) ketika pemerintahan Trump menarik diri.
Langkah Amerika Serikat Selanjutnya
Gedung Putih menyatakan bahwa AS tidak akan bernegosiasi melalui media dan hanya akan menerima kesepakatan yang melindungi kepentingan rakyat Amerika serta mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Jika Iran terus mengabaikan isu nuklir, Washington diperkirakan akan meningkatkan tekanan ekonomi, memperkuat aliansi dengan sekutu regional, dan menyiapkan opsi militer terbatas.
Para analis menilai bahwa kebijakan Trump yang tegas dapat memperpanjang kebuntuan diplomatik, namun sekaligus memaksa Tehran untuk kembali ke meja perundingan dengan agenda yang lebih komprehensif.
Dengan ketegangan yang terus memuncak, langkah selanjutnya akan sangat menentukan arah hubungan AS-Iran dalam beberapa bulan mendatang. Baik Washington maupun Tehran harus menimbang konsekuensi ekonomi, militer, dan politik dari setiap keputusan yang diambil.
Kesimpulannya, ketidakpuasan Trump terhadap proposal Iran yang mengabaikan program nuklir menandai titik balik penting. Amerika Serikat kini menyiapkan langkah balasan yang mencakup tekanan ekonomi lebih keras dan kemungkinan aksi militer terbatas, sementara Iran berupaya memperkuat dukungan regional sebelum kembali ke meja perundingan.