Kualitas udara di Kalimantan Selatan menunjukkan tanda “sangat tidak sehat” pada Kamis (03/09) pagi, menandai kelanjutan kebakaran hutan yang telah meluas selama dua bulan terakhir. Polutan utama PM2.5 tercatat mencapai 164,9 µg/m³, nilai yang jauh melebihi batas aman bagi kesehatan manusia.
Perjalanan Melalui Kabut Asap di Banjarbaru
Banjarbaru, ibu kota provinsi Kalimantan Selatan, menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak kebakaran lahan. Pada perjalanan menuju kawasan Guntung Payung, kabut asap putih tebal menyelimuti jalanan, membuat pemandangan terhalang dan menimbulkan bau asap yang sangat mengganggu pernapasan. Jurnalis yang berada di lokasi memakai masker filtrasi tinggi tetap mencium bau asap, menunjukkan intensitas kebakaran yang tidak menurun.
Di antara warga yang melintas di jalan, sebagian memakai masker sementara yang lain tidak. Meskipun jarak pandang masih terbilang aman, kabut asap tebal biasanya dapat mempersingkat jarak pandang menjadi hanya 5–10 meter, menambah risiko bagi pengendara dan pejalan kaki.
Detail Kebakaran di Kawasan Guntung Payung
Di seputaran kawasan Guntung Payung, pada pukul 06.30 waktu setempat, ditemukan sebagian lahan gambut tipis milik warga yang baru terbakar. Tanahnya menghitam dan memancarkan asap putih terus-menerus, seolah ada api yang membara dari dalam tanah. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebakaran tidak hanya terbatas pada permukaan, tetapi juga melibatkan lapisan bawah tanah yang sulit diatasi.
Wilayah Tertinggi Risiko Kebakaran
Tiga wilayah di Banjarbaru menjadi titik panas kebakaran. Pertama, kawasan ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor; kedua, hutan lindung Liang Anggang; dan ketiga, Pengayuan seluas 900 hektare di perbatasan Kabupaten Tanah Laut. Ketiga wilayah ini mencakup sebagian besar lahan terbakar, menambah beban pemantauan dan penanggulangan kebakaran di wilayah tersebut.
Luas Lahan Terbakar dan Dampaknya
Luas lahan terbakar mencapai sekitar 1.263 hektare dalam dua bulan terakhir. Peningkatan luas kebakaran ini menimbulkan dampak serius bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Polutan PM2.5 yang tinggi dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, serta memperburuk kondisi pernapasan bagi penderita penyakit jantung dan paru. Selain itu, kebakaran hutan juga mengancam satwa liar, mengurangi habitat alami, dan menurunkan kualitas udara secara keseluruhan.
Upaya Penanggulangan dan Tantangan yang Dihadapi
Penanggulangan kebakaran di Kalimantan Selatan memerlukan koordinasi antara pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan masyarakat. Meskipun telah ada upaya pemadaman, kebakaran masih terus menyebar, terutama di daerah dengan lahan gambut tipis. Faktor cuaca, seperti angin kencang dan kelembapan rendah, mempersulit upaya pemadaman dan meningkatkan risiko penyebaran api.
Kesadaran Masyarakat dan Peran Individu
Keberhasilan penanggulangan kebakaran tidak hanya bergantung pada upaya lembaga resmi, tetapi juga pada kesadaran masyarakat. Penggunaan masker di daerah yang terpapar asap, menghindari aktivitas terbuka pada pagi hari, dan melaporkan kebakaran secara cepat dapat mengurangi risiko kesehatan dan mempercepat respons penanggulangan.
Proyeksi dan Harapan untuk Masa Depan
Jika tren kebakaran terus berlanjut, kualitas udara di Kalimantan Selatan kemungkinan akan tetap berada di kategori “sangat tidak sehat.” Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan. Dengan kolaborasi yang lebih baik dan penegakan kebijakan lingkungan yang ketat, diharapkan luas lahan terbakar dapat dikurangi secara signifikan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cp80v0de515o?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.