Unhas Bangun Dapur MBG Rp2 Miliar, Kampus Diminta Aktif Bagi Proyek Nutrisi Gratis
Berita Hari Ini – 02 Mei 2026 | Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar resmi mengumumkan investasi sebesar dua miliar rupiah untuk membangun Dapur MBG (Makan Bergizi Gratis). Proyek ini menandai langkah historis, menjadikan Unhas kampus pertama di Indonesia yang secara mandiri mengelola satuan layanan pemenuhan gizi (SPPG) untuk menyediakan makanan bergizi secara gratis bagi mahasiswa, staf, dan masyarakat sekitar.
Sejarah dan Visi Unhas dalam Pengelolaan Dapur MBG
Sejak berdiri pada tahun 1956, Unhas selalu menekankan peran strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya berbasis benua maritim Indonesia. Visi kampus ini mencakup menjadi pusat unggulan dalam pengembangan insani dan inovatif, dengan misi yang menekankan penyediaan lingkungan belajar berkualitas serta pelestarian serta penyebaran ilmu bagi kemaslahatan bangsa. Nilai-nilai integritas, inovasi, katalik, dan arif menjadi landasan kuat bagi pelaksanaan program sosial seperti Dapur MBG.
Biaya dan Skala Pembangunan Dapur MBG
Menurut data internal Unhas, total biaya pembangunan dapur mencapai sekitar Rp2 miliar. Anggaran tersebut meliputi renovasi ruang dapur, pembelian peralatan masak industri, sistem pendingin, serta instalasi keamanan pangan. Pengeluaran ini juga mencakup pelatihan staf dapur, pengadaan bahan baku berkualitas, dan pengembangan sistem distribusi makanan yang efisien.
Dengan fasilitas modern, dapur ini dapat memproduksi ribuan porsi makanan bergizi setiap harinya, menjangkau tidak hanya komunitas kampus tetapi juga warga sekitar yang membutuhkan. Menu yang disajikan dirancang oleh tim gizi kampus, mengedepankan keseimbangan protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral.
Ajakan kepada Kampus Lain untuk Terlibat Aktif
Rektor Unhas, Jamaluddin Jompa, secara terbuka mengundang perguruan tinggi lain untuk berpartisipasi dalam pembangunan dan pengelolaan Dapur MBG serupa. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam menjawab tantangan gizi nasional, terutama di wilayah maritim yang masih menghadapi ketimpangan akses pangan.
Beberapa bentuk keterlibatan yang diharapkan meliputi:
- Penyediaan dana atau sumbangan peralatan dapur.
- Penelitian bersama tentang nutrisi dan keamanan pangan.
- Program magang bagi mahasiswa gizi dan teknik pangan.
- Pengembangan model distribusi makanan ke daerah terpencil.
Unhas berharap model Dapur MBG dapat direplikasi oleh universitas lain, menciptakan jaringan kampus yang berperan aktif dalam meningkatkan status gizi masyarakat Indonesia.
Dampak Sosial dan Akademik
Implementasi Dapur MBG tidak hanya memberikan manfaat langsung berupa makanan bergizi, tetapi juga membuka peluang penelitian akademik. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, serta Ilmu Gizi Unhas kini memiliki laboratorium lapangan untuk menguji efektivitas menu, mengukur perubahan status gizi, dan mengembangkan inovasi makanan berbasis lokal.
Selain itu, keberadaan dapur ini meningkatkan citra Unhas sebagai institusi yang peduli pada kesejahteraan sosial, memperkuat hubungan dengan pemerintah daerah, serta menarik minat calon mahasiswa yang mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan.
Secara keseluruhan, proyek Dapur MBG ini menjadi contoh konkret bagaimana perguruan tinggi dapat berperan lebih dari sekadar tempat belajar, melainkan sebagai agen perubahan sosial yang nyata.
Dengan komitmen kuat dan dukungan luas, diharapkan Dapur MBG Unhas akan menjadi pionir yang menginspirasi terciptanya jaringan dapur gizi gratis di seluruh Indonesia, menjawab tantangan gizi nasional serta memperkuat peran kampus dalam pembangunan berkelanjutan.