Wamensos menegaskan pentingnya Sekolah Rakyat sebagai jembatan emas bagi anak-anak keluarga miskin di Pekalongan, dengan target pembangunan selesai pada 2025.
Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan: Langkah Strategis Mengatasi Kesenjangan Pendidikan
Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menyatakan bahwa Sekolah Rakyat merupakan jembatan emas bagi anak-anak keluarga miskin untuk meraih cita‑cita dan memutus transmisi kemiskinan antar generasi. Dalam audiensi Plt Bupati Pekalongan Sukirman di Kantor Kementerian Sosial pada Selasa (29/9/2026), beliau menegaskan bahwa pendidikan berasrama di Sekolah Rakyat akan memberi kesempatan bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi mereka tanpa terhalang kondisi ekonomi keluarga.
Program ini diprioritaskan bagi anak-anak yang masuk desil 1 dan 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Proses pemilihan calon siswa dilakukan melalui verifikasi langsung ke rumah, guna memastikan kesesuaian data dengan kondisi keluarga. Hasil verifikasi kemudian dibahas di tingkat kabupaten sebelum daftar calon siswa ditetapkan oleh bupati dan disampaikan kepada Menteri Sosial.
Menurut Agus Jabo, “Anak-anak (dari keluarga) miskin yang sudah gelap (harapannya), sekarang (di Sekolah Rakyat) pengen jadi dokter, tentara, ingin jadi polisi, ada jalannya. Jadi Sekolah Rakyat ini betul‑betul jembatan emas mereka membangun harapan baru.”
Target Selesai 2025: Mengoptimalkan Akses Pendidikan di Daerah Tertinggal
Target selesai pembangunan Sekolah Rakyat pada tahun 2025 menunjukkan komitmen pemerintah untuk mempercepat akses pendidikan di daerah tertinggal. Dengan fasilitas berasrama, anak-anak dapat belajar dan tinggal di lingkungan sekolah, sehingga tidak perlu khawatir tentang biaya transportasi atau penginapan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi belajar, menurunkan tingkat putus sekolah, dan membuka peluang karier bagi generasi muda Pekalongan.
Pengembangan infrastruktur pendidikan ini juga akan memicu pertumbuhan ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja bagi tenaga pendidik, staf administrasi, dan tenaga kerja konstruksi. Selain itu, keberadaan sekolah berasrama dapat menarik investasi tambahan di sektor pendidikan dan kesehatan, memperkuat jaringan sosial dan ekonomi di wilayah tersebut.
Peran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) dalam Seleksi Siswa
DTSEN berfungsi sebagai alat verifikasi yang akurat untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan akses ke Sekolah Rakyat. Dengan data yang terintegrasi, Wamensos dapat memastikan bahwa sumber daya terbatas dialokasikan kepada keluarga yang paling membutuhkan. Proses verifikasi langsung ke rumah menambah kredibilitas data, mengurangi risiko penyalahgunaan atau ketidaksesuaian informasi.
Setelah data diverifikasi, hasilnya dibahas di tingkat kabupaten. Bupati Pekalongan kemudian menyusun daftar calon siswa, yang selanjutnya disampaikan kepada Menteri Sosial untuk persetujuan akhir. Mekanisme ini menjamin transparansi dan akuntabilitas dalam alokasi bantuan pendidikan, sekaligus memfasilitasi kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah.
Dampak Jangka Panjang bagi Pembangunan Sosial dan Ekonomi
Dengan menyediakan fasilitas pendidikan berasrama, Sekolah Rakyat tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan tetapi juga memperkuat jaringan sosial antarwarga. Anak-anak yang belajar bersama di lingkungan yang aman dan terstruktur dapat mengembangkan keterampilan sosial, kepemimpinan, dan kerja tim. Keterampilan ini penting bagi masa depan mereka, baik dalam dunia kerja maupun dalam peran aktif sebagai warga negara.
Dari perspektif ekonomi, peningkatan tingkat pendidikan cenderung meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Anak-anak yang mendapatkan pendidikan berasrama memiliki peluang lebih besar untuk mengejar karier di bidang profesional seperti kedokteran, militer, atau kepolisian. Peningkatan peluang kerja ini dapat menurunkan tingkat pengangguran di kalangan generasi muda Pekalongan, sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.
Selain itu, keberhasilan program ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. Jika target selesai 2025 tercapai, pemerintah dapat mereplikasi model Sekolah Rakyat di wilayah dengan kebutuhan pendidikan yang serupa. Ini akan memperkuat upaya nasional dalam mengurangi ketimpangan sosial dan ekonomi melalui pendidikan.
Kesimpulan: Sekolah Rakyat sebagai Katalisator Perubahan Sosial
Wamensos menegaskan bahwa Sekolah Rakyat di Pekalongan akan menjadi jembatan emas bagi anak-anak keluarga miskin, membuka jalan bagi mereka untuk meraih cita‑cita dan memutus transmisi kemiskinan. Target selesai pada 2025 menunjukkan komitmen serius pemerintah untuk mempercepat akses pendidikan di daerah tertinggal. Dengan dukungan data tunggal sosial dan ekonomi nasional, proses seleksi siswa menjadi lebih transparan dan akurat. Dampak jangka panjangnya diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga memperkuat jaringan sosial dan ekonomi, serta menurunkan tingkat pengangguran di kalangan generasi muda Pekalongan. Dengan demikian, Sekolah Rakyat berpotensi menjadi katalisator perubahan sosial yang signifikan, membuka pintu bagi masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak Pekalongan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260930160013-25-1410080/wamensos-dorong-percepatan-pembangunan-sekolah-rakyat-pekalongan, without altering the facts of the original article.