Wapres Gibran Rakabuming Raka melakukan kunjungan ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) Wolomoni di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam kunjungan tersebut, para pelajar dan orang tua murid menyampaikan aspirasi mereka, termasuk permintaan agar program Makanan Bergizi Gratis (MBG) segera direalisasikan di sekolah mereka.
Apa yang Terjadi di SDN Wolomoni?
Para pelajar SDN Wolomoni menyampaikan langsung berbagai aspirasi mereka kepada Wapres Gibran. Mereka mengaku belum menerima program MBG, meskipun program tersebut merupakan salah satu janji kampanye nasional dan telah mulai dijalankan di sejumlah wilayah lain. “Terima kasih Bapak Wakil Presiden sudah berkunjung ke sekolah kami dan memberikan kami tas sekolah, kami minta MBG karena kami belum dapat MBG,” ujar beberapa pelajar SDN Wolomoni serentak.
Permintaan serupa juga disampaikan oleh orang tua murid, salah satunya Maria Magdalena Eva. Ia mengeluhkan belum tersalurnya program MBG untuk anak-anak di wilayah tersebut. “Anak-anak kami belum dapat MBG, masih sementara kerja,” ujar Maria Magdalena Eva.
Ketersediaan Dapur SPPG di Kabupaten Ende
Kepala Desa Niowula, Finsensius Papa, menjelaskan bahwa dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah 3T tersebut sebenarnya sudah selesai dibangun. Namun, masih menunggu proses perizinan dan uji kelayakan sebelum bisa beroperasi penuh. “Pembangunan fisik sudah selesai tapi izin pelaksanaannya yang belum, jadi dari tim kelayakan sudah survey untuk melakukan inspeksi oleh tim dari pusat supaya mulai pelaksanaan pelayanan gizi kepada anak sekolah, bayi balita di desa saya, ini dapur 3T, jadi masih menunggu untuk inspeksi uji kelayakan,” jelas Finsensius Papa di hadapan Wapres Gibran.
Mengapa Program MBG Belum Terealisasi?
Program MBG merupakan salah satu janji kampanye nasional yang bertujuan untuk meningkatkan gizi anak sekolah. Namun, program ini belum terealisasi di Kabupaten Ende, NTT. Berdasarkan keterangan Finsensius Papa, dapur SPPG di wilayah tersebut sudah selesai dibangun, namun masih menunggu proses perizinan dan uji kelayakan.
Selain itu, persoalan pendidikan di SDN Wolomoni juga mencuat. Warga menyampaikan sejumlah persoalan, mulai dari kondisi fasilitas sekolah yang rusak hingga beban biaya yang masih ditanggung secara mandiri. “Terus pagar sekolah. Pagar sekolah kami itu masih darurat, bapak. Pakai kayu gamal dengan bambu. Lalu yang kedua, mengenai perbaikan sekolah. Kebetulan sekolah kami ini, atapnya atau plafonnya itu sudah banyak yang rusak, Bapak,” ujar perwakilan warga.
Apa Artinya Ini bagi Pendidikan di NTT?
Kunjungan Wapres Gibran ke SDN Wolomoni menunjukkan perhatian pemerintah terhadap pendidikan di NTT. Program MBG diharapkan dapat meningkatkan gizi anak sekolah dan meningkatkan kualitas pendidikan. Namun, masih banyak persoalan pendidikan di NTT yang perlu diselesaikan, seperti kondisi fasilitas sekolah yang rusak dan beban biaya yang masih ditanggung secara mandiri.
Dengan demikian, pemerintah diharapkan dapat memperhatikan persoalan pendidikan di NTT dan mencari solusi untuk menyelesaikannya. “Lalu yang berikut lagi, Bapak… mengenai guru honorer. Kami orang tua murid di sana setengah mati, Bapak. Setiap bulan kami harus membayar iuran komite untuk membayar gaji guru honorer,” ungkapnya.
Jalan panjang yang masih harus ditempuh oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di NTT. Perlu kerja sama antara pemerintah, warga, dan stakeholder lainnya untuk menyelesaikan persoalan pendidikan di NTT.