Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa fenomena El Nino akan bertahan paling tidak hingga awal kuartal pertama tahun 2027. El Nino ini diprediksi akan memiliki dampak signifikan terhadap kondisi Indonesia, terutama karena saat ini sejumlah wilayah Indonesia juga akan memasuki periode puncak musim kemarau pada Agustus mendatang. Kondisi kering yang terjadi saat ini selaras dengan perkembangan dinamika iklim global, dengan indeks Niño 3.4 dasarian masih tercatat sebesar +2,26 dan nilai Southern Oscillation Index (SOI) mencapai -28,2.
Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, kekuatan El Nino saat ini telah melebihi ambang batas atau threshold kategori kuat. Monitoring suhu permukaan laut di Pasifik telah menunjukkan indeks Nino 3.4 yang menyatakan kekuatan El Nino yang telah melebihi threshold kategori kuat, yaitu di atas 1,5°C, saat ini lebih dari 1,56°C. Di saat bersamaan, di Samudra Hindia menunjukkan indeks negatif, yakni -0,38, yang menunjukkan bahwa ada peluang cukup signifikan untuk terjadinya fenomena Indian Ocean Dipole, yang biasanya satu paket dengan El Nino untuk membuat dunia semakin panas.
Dinamika Iklim Global dan Dampak El Nino
BMKG memprediksi puncak El Nino akan terjadi pada Desember 2026 atau Januari 2027. Fase puncak El Nino kali ini akan melewati batas kategori El Nino kuat. Profesor riset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin mengatakan bahwa sejumlah pakar iklim memprediksi bahwa pemanasan suhu akibat El Nino bisa mencapai lebih dari 2 derajat. Jika El Nino mencapai 2 atau lebih dari 2, maka itu disebut dengan super. Dampak El Nino kali ini diperkirakan bakal lebih parah dibandingkan dengan El Nino 2023, karena intensitas El Nino tahun ini sudah melampaui tahun 2023, dengan kondisi masih bisa lebih panas lagi ke depannya.
El Nino akan berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air. Selain itu, El Nino juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, penurunan kualitas udara akibat meningkatnya konsentrasi polutan, serta gangguan kesehatan masyarakat seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit akibat paparan suhu panas. Di sektor pangan dan pertanian, BMKG mengingatkan adanya risiko gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga peningkatan potensi puso akibat defisit air. Oleh karena itu, kesiapsiagaan dan langkah antisipatif perlu dilakukan sejak dini melalui penyesuaian pola tanam, pengelolaan irigasi yang lebih efisien, serta pemanfaatan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan di sektor pertanian.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Dampak El Nino yang lebih parah dibandingkan dengan tahun 2023 menuntut perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat. Penting untuk memahami bahwa El Nino bukan hanya fenomena alam, tetapi juga memiliki implikasi sosial dan ekonomi yang signifikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya mitigasi dan adaptasi untuk mengurangi dampak negatif El Nino. BMKG dan lembaga terkait perlu terus memantau kondisi iklim dan memberikan informasi yang akurat dan terkini kepada masyarakat. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi dampak El Nino dan mengurangi risiko yang timbul.
El Nino yang diprediksi akan bertahan hingga awal kuartal pertama tahun 2027 menuntut kesiapsiagaan dan langkah antisipatif dari berbagai pihak. Dengan memahami dinamika iklim global dan dampak El Nino, diharapkan dapat dilakukan upaya untuk mengurangi dampak negatif dan meningkatkan ketahanan masyarakat. Penting untuk terus memantau kondisi iklim dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menghadapi tantangan yang akan datang.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260730144434-641-1386639/bmkg-prediksi-el-nino-bertahan-hingga-2027-simak-dampaknya, without altering the facts of the original article.