25 September 2026
IDAI Rekomendasikan 6 Langkah Tangani Influenza A pada Anak

IDAI Rekomendasikan 6 Langkah Tangani Influenza A pada Anak

Peluang Emas: 2.126 Lowongan Kerja Online dan Pendidikan Vokasi Siap Kerja di Banten!

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren Media Sosial yang Akan Populer di Tahun 2026

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren SEO Terbaru Tahun 2026 yang Wajib Diketahui

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Roadmap Belajar Digital Marketing dari Pemula hingga Mahir

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Influenza A pada anak kembali menjadi perhatian setelah adanya peningkatan aktivitas influenza di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini membuat orang tua perlu lebih memahami cara melindungi anak, mengenali gejala, serta mengetahui kapan anak perlu mendapatkan pemeriksaan medis.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan enam rekomendasi untuk menghadapi peningkatan influenza A pada anak. Rekomendasi tersebut mencakup vaksinasi influenza setiap tahun, penerapan protokol kesehatan, mengenali gejala dan tanda bahaya, tidak membawa anak yang sakit ke sekolah, mencegah dehidrasi, serta memperkuat surveilans dan akses pemeriksaan.

Anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Menurut IDAI, anak usia 0–17 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami influenza bergejala dibandingkan orang dewasa. Anak juga dapat menularkan virus dalam jumlah lebih banyak dan dalam waktu yang lebih lama sehingga berpotensi menularkan kepada anggota keluarga maupun teman di sekolah.

Influenza A pada Anak Perlu Diwaspadai

Influenza merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Pada sebagian anak, infeksi dapat berlangsung ringan dan membaik dengan perawatan yang tepat. Namun, influenza juga dapat menyebabkan komplikasi, terutama pada anak yang memiliki faktor risiko.

IDAI menyebutkan bahwa komplikasi pada anak dengan faktor risiko dapat berupa pneumonia, memburuknya asma, miokarditis atau peradangan otot jantung, hingga ensefalopati. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan kondisi anak dan tidak menganggap semua gejala flu sebagai penyakit ringan.

Data yang disampaikan IDAI juga menunjukkan sekitar 5 persen anak yang mengalami influenza memerlukan perawatan di rumah sakit. Dari kelompok tersebut, sebagian besar merupakan anak berusia di bawah 2 tahun.

Lantas, apa saja enam langkah yang direkomendasikan IDAI?

1. Berikan Vaksinasi Influenza Setiap Tahun

Langkah pertama adalah vaksinasi influenza secara rutin setiap tahun.

IDAI merekomendasikan vaksin influenza untuk anak mulai usia 6 bulan, termasuk anggota keluarga lainnya. Vaksinasi perlu dilakukan setiap tahun karena virus influenza terus mengalami perubahan sehingga komposisi vaksin juga dapat diperbarui untuk menyesuaikan virus yang diperkirakan beredar.

Vaksin influenza bukan berarti seseorang tidak mungkin terkena influenza sama sekali. Namun, vaksinasi ditujukan untuk membantu mengurangi risiko infeksi serta menurunkan risiko penyakit berat dan komplikasi.

Orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga kesehatan mengenai jenis vaksin dan jadwal pemberiannya sesuai usia anak.

2. Terapkan Protokol Kesehatan

Langkah kedua adalah menerapkan kebiasaan yang dapat membantu mengurangi penularan influenza.

Orang tua dapat membiasakan anak mencuci tangan menggunakan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker ketika sedang sakit. Menghindari kerumunan dan kontak dekat dengan orang yang sedang mengalami gejala flu juga dapat membantu mengurangi risiko penularan.

Kebiasaan tersebut penting terutama ketika aktivitas influenza sedang meningkat.

Orang tua juga sebaiknya memperhatikan kebersihan lingkungan rumah dan memastikan ruangan memiliki sirkulasi udara yang baik.

3. Kenali Gejala dan Tanda Bahaya Influenza A

Langkah berikutnya adalah mengenali gejala influenza dan tanda bahaya sejak dini.

Gejala influenza dapat meliputi demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, badan terasa pegal, dan kelelahan. Pada anak, gejalanya dapat berbeda-beda sehingga orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi secara keseluruhan.

IDAI mengingatkan orang tua agar segera berkonsultasi dengan dokter apabila kondisi anak memburuk. Beberapa tanda bahaya yang perlu diperhatikan antara lain sesak napas, demam tinggi yang tidak turun, penurunan kesadaran, dan dehidrasi.

Pada anak dengan faktor risiko atau gejala berat, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan laboratorium seperti RT-PCR untuk membantu memastikan diagnosis dan mengidentifikasi subtipe virus.

4. Jangan Memaksa Anak Sekolah Saat Sedang Sakit

Anak yang sedang mengalami influenza sebaiknya beristirahat di rumah dan tidak dibawa ke sekolah atau tempat bermain.

Langkah ini bukan hanya untuk membantu proses pemulihan anak, tetapi juga untuk mengurangi kemungkinan menularkan virus kepada anak lainnya.

Menurut IDAI, anak dapat menularkan virus influenza sejak sekitar 24 jam sebelum gejala muncul hingga beberapa hari setelahnya. Karena itu, anak yang sedang sakit perlu beristirahat di rumah sampai kondisinya membaik. IDAI juga menyebutkan anak sebaiknya sudah bebas demam setidaknya 24 jam tanpa obat penurun panas sebelum kembali beraktivitas.

Dengan memberikan waktu istirahat yang cukup, anak dapat memulihkan kondisi tubuh sekaligus membantu memutus rantai penularan di sekolah.

5. Pastikan Anak Tidak Mengalami Dehidrasi

Ketika mengalami influenza, anak tetap perlu mendapatkan cairan yang cukup.

Orang tua dapat memastikan anak minum air secara teratur. Asupan cairan menjadi semakin penting ketika anak mengalami demam atau berkeringat lebih banyak.

Selain menjaga kebutuhan cairan, anak juga membutuhkan istirahat yang cukup. Jika anak mengalami demam atau nyeri, penggunaan obat harus mengikuti petunjuk tenaga kesehatan dan dosis yang sesuai dengan usia serta kondisi anak.

IDAI mengingatkan agar orang tua tidak memberikan obat antivirus secara sembarangan. Obat antivirus seperti oseltamivir merupakan obat yang penggunaannya harus berdasarkan evaluasi dokter. Terapi antivirus dapat memberikan manfaat paling optimal bila dimulai dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul pada kondisi yang sesuai.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menunda konsultasi apabila anak memiliki gejala yang cukup berat atau termasuk kelompok berisiko.

6. Perkuat Surveilans dan Akses Pemeriksaan

Rekomendasi keenam ditujukan pada penguatan sistem pemantauan influenza.

IDAI mendorong penguatan surveilans genomik serta akses pemeriksaan RT-PCR untuk membantu mengidentifikasi subtipe influenza, termasuk H3N2 subklad K. Data tersebut penting bagi tenaga kesehatan dan pemerintah untuk memantau perkembangan virus serta membantu perencanaan penanganan dan vaksinasi.

Bagi orang tua, hal ini berarti pemeriksaan sebaiknya dilakukan berdasarkan pertimbangan tenaga kesehatan, terutama ketika anak menunjukkan gejala berat atau memiliki faktor risiko.

Influenza A H3N2 Subklad K di Indonesia

Perhatian terhadap influenza A meningkat setelah H3N2 subklad K ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam pemberitaan September 2026, Kementerian Kesehatan menyebut subklad tersebut telah terdeteksi di 13 provinsi.

Meski sering disebut “super flu” dalam pemberitaan, istilah tersebut bukan nama medis resmi untuk suatu penyakit baru. Masyarakat tetap perlu melihat kondisi berdasarkan data kesehatan dan rekomendasi tenaga medis.

Kemenkes juga terus melakukan pemantauan terhadap influenza melalui sistem surveilans. Pada minggu epidemiologi ke-36 tahun 2026, data yang diberitakan menunjukkan proporsi positif influenza mencapai 46 persen dari pemeriksaan sentinel, dengan kelompok usia 0–4 tahun menyumbang 42 persen dari kasus influenza yang terdeteksi pada periode tersebut.

Kapan Anak Harus Dibawa ke Dokter?

Orang tua sebaiknya tidak hanya melihat angka suhu tubuh, tetapi juga memperhatikan kondisi anak secara keseluruhan.

Segera cari pertolongan medis apabila anak mengalami sesak napas, penurunan kesadaran, sulit mendapatkan cairan, tanda dehidrasi, atau demam tinggi yang tidak membaik. Anak dengan penyakit penyerta atau faktor risiko tertentu juga membutuhkan perhatian lebih.

Diagnosis influenza tidak selalu dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala. Dalam kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan laboratorium.

Kesimpulan

IDAI merekomendasikan enam langkah menghadapi influenza A pada anak, yaitu vaksinasi influenza setiap tahun, menerapkan protokol kesehatan, mengenali gejala dan tanda bahaya, tidak membawa anak yang sakit ke sekolah, mencegah dehidrasi, serta memperkuat surveilans dan akses pemeriksaan.

Influenza A pada anak umumnya dapat ditangani, tetapi risiko komplikasi perlu diperhatikan terutama pada anak usia kecil dan anak dengan kondisi tertentu. Karena itu, orang tua tidak perlu panik, tetapi tetap perlu waspada.

Dengan mengenali gejala sejak dini, menjaga kebersihan, memberikan waktu istirahat yang cukup, memastikan kebutuhan cairan terpenuhi, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ketika diperlukan, orang tua dapat membantu melindungi anak dari dampak influenza A.

penulis: Anisa Zahra Sabrina f.

Peluang Emas: 2.126 Lowongan Kerja Online dan Pendidikan Vokasi Siap Kerja di Banten!

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren Media Sosial yang Akan Populer di Tahun 2026

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren SEO Terbaru Tahun 2026 yang Wajib Diketahui

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Roadmap Belajar Digital Marketing dari Pemula hingga Mahir

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *