**Jalan Veteran Menjadi Contoh Bagaimana Kota Rawa Dapat Dibangun dengan Ekosistem yang Seimbang** **Momen Penentu di Menit Akhir** Jalan Veteran di Banjarmasin ambles beberapa waktu yang lalu, membuat banyak orang khawatir tentang keamanan dan kenyamanan tempat tinggal dan tempat usaha mereka. Peristiwa ini tidak hanya merupakan musibah teknis atau gangguan infrastruktur biasa, tetapi juga merupakan alarm ekologis yang menegaskan kembali hakikat paling mendasar dari jati diri geografis Banjarmasin sebagai sebuah ruang hidup yang lahir, tumbuh, dan bernapas di atas hamparan tanah rawa. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Menurut Kaprodi/Dosen Sains Lingkungan, Universitas PGRI Kalimantan, peristiwa amblesan Jalan Veteran dapat dipahami secara jernih melalui dua pendekatan Sains Lingkungan yang saling berkaitan erat, yaitu dinamika pergerakan air tanah dan gempuran beban di atas permukaan. Pertama, mengenai dinamika hidrologi alami. Pasang surut air sungai serta fluktuasi naik turunnya muka air tanah adalah irama alam yang sangat wajar di Banjarmasin. Namun, persoalan mulai timbul ketika saluran-saluran air alami, parit, atau anak-anak sungai yang berada di sepanjang koridor jalan perlahan mulai menyempit, mengalami pendangkalan masif, atau bahkan tertutup total akibat alih fungsi lahan. Kedua, mengenai gempuran beban di atas permukaan. Karakteristik paling khas dari tanah rawa tempat kota Banjarmasin berdiri adalah sifatnya yang luwes namun sekaligus amat ringkih. Ia memiliki daya dukung (bearing capacity) yang relatif rendah serta tingkat kompresibilitas atau kemudahan memadat yang sangat tinggi. Dalam bahasa awam yang lebih mudah dipahami, tanah rawa tempat kota kita berdiri sejatinya bekerja layaknya sebuah spon alami berukuran raksasa. Ia akan memuai dan mengembang ketika menyerap pasokan air, lalu akan menyusut serta memadat saat mengering atau tatkala terus-menerus menahan beban berat yang bertengger di atasnya. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Fenomena amblesan Jalan Veteran ini memiliki dampak yang signifikan bagi kehidupan masyarakat Banjarmasin. Pertama, mengenai keamanan dan kenyamanan tempat tinggal dan tempat usaha. Peristiwa ini dapat menyebabkan kerugian material dan non-material bagi warga, serta mempengaruhi kegiatan ekonomi dan sosial di kota. Kedua, mengenai kelestarian lingkungan. Amblesan jalan ini dapat mengindikasikan kerusakan ekosistem lahan basah (wetland) yang rapuh di bawahnya, yang dapat memiliki dampak yang lebih luas bagi kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitar. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Untuk mengatasi permasalahan ini, perlu dilakukan upaya-upaya yang lebih serius dan berkelanjutan. Pertama, mengenai pengelolaan lingkungan. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk menjaga kelestarian ekosistem lahan basah (wetland) dan mencegah alih fungsi lahan yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Kedua, mengenai pengembangan infrastruktur. Pemerintah perlu memperhatikan kualitas dan keamanan infrastruktur, serta memastikan bahwa proyek-proyek yang akan dibangun tidak akan menyebabkan kerusakan lingkungan. Dengan demikian, kota Banjarmasin dapat menjadi contoh bagaimana kota rawa dapat dibangun dengan ekosistem yang seimbang dan lestari.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://banjarmasin.tribunnews.com/kolom/1370188/belajar-dari-jalan-veteranpembangunan-kota-rawa-membutuhkan-perspektif-ekosistem, without altering the facts of the original article.