Situs fisik berarsitektur klasik di Desa Bagelen, Pesawaran, Lampung, merupakan satu-satunya sisa bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu gelombang awal transmigrasi era kolonial pada tahun 1905. Meskipun telah mengalami beberapa kali pergantian kepemilikan, suasana interior rumah bergaya jadul tersebut masih mempertahankan tata ruang asli serta lantai berlapis kayu.
Momen Penentu di Menit Akhir
Rumah tua tersebut memiliki delapan ruangan utama lengkap dengan fasilitas kamar mandi, bak berendam, hingga sumur tua sisa peninggalan era pendudukan. Kepemilikan aset bersejarah ini sempat dikuasai oleh pejabat daerah pascakemerdekaan sebelum akhirnya berstatus milik warga negara Italia bernama Roberto.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Struktur bangunan tua tersebut memiliki beberapa keunikan. Pertama, rumah tersebut masih memiliki tata ruang asli dan lantai berlapis kayu. Kedua, bangunan tersebut memiliki delapan ruangan utama lengkap dengan fasilitas kamar mandi, bak berendam, dan sumur tua. Ketiga, rumah tersebut merupakan satu-satunya sisa bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu gelombang awal transmigrasi era kolonial pada tahun 1905.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Wagiah (70), warga setempat yang pernah bekerja merawat area hunian tersebut dari tahun 1991 hingga 2001, membeberkan bahwa bangunan lain di sekitarnya kini sudah musnah. “Setahu saya tidak ada lagi bangunan lama yang tersisa di kawasan ini, cuma rumah ini,” ujarnya. Pemilik hunian saat ini diketahui menjadikan bangunan tua tersebut sebagai tempat singgah berkala ketika sedang menikmati masa liburan di wilayah Lampung. Warga lokal berharap pemerintah daerah beserta dinas terkait dapat memberikan perhatian khusus serta perlindungan perawatan terhadap peninggalan bersejarah tersebut.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Jejak fisik rumah tua di Desa Bagelen ini menjadi tonggak bukti autentik lahirnya pemukiman transmigrasi pertama di Indonesia yang bernilai sejarah tinggi. Namun, kondisi fisik bangunan seluas delapan kamar tersebut saat ini tidak sepenuhnya utuh akibat termakan usia dan menjadi tempat bersarang kelelawar di lantai dua. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian khusus dan perlindungan perawatan terhadap peninggalan bersejarah tersebut agar dapat tetap lestari bagi generasi mendatang. Dalam beberapa tahun terakhir, bangunan lain di sekitar rumah tua tersebut telah musnah. Hal ini menunjukkan bahwa perlu adanya perhatian khusus dan perlindungan perawatan terhadap peninggalan bersejarah tersebut agar dapat tetap lestari bagi generasi mendatang. Pemerintah daerah dan dinas terkait perlu memberikan perhatian khusus dan melakukan perlindungan perawatan terhadap rumah tua tersebut agar dapat tetap lestari. Dengan demikian, bangunan bersejarah tersebut dapat tetap menjadi saksi bisu gelombang awal transmigrasi era kolonial pada tahun 1905.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://lampung.tribunnews.com/lampung/1215749/rumah-tua-kolonial-bagelen-pesawaran-saksi-bisu-transmigrasi-belanda-1905, without altering the facts of the original article.