Waspada terhadap konsumsi gula tersembunyi atau ‘hidden sugar’ di pangan menjadi penting karena dapat berujung pada diabetes. Kepala BPOM RI Taruna Ikrar mengungkapkan bahwa pemerintah sudah mewajibkan pencantuman informasi kandungan gizi pada produk pangan kemasan yang mengantongi izin edar. Namun, masyarakat belum terbiasa membaca label tersebut. “Sebetulnya yang berhubungan dengan kandungan nutrisi sudah diputuskan sejak 2019. Sekarang makanan kemasan sudah ada keterangannya, hanya masyarakat kita belum terbiasa membaca kandungan itu,” kata Taruna dalam sesi bincang detikcom leaders forum, Jebakan Hidden Sugar: Ada di Mana-mana, Diam-diam Bikin Gemuk, Jumat (5/6/2026).
Apa yang Terjadi?
Masyarakat kerap sulit membedakan istilah-istilah yang digunakan pada kemasan pangan. Berbagai klaim seperti ‘less sugar’, ‘low sugar’ yang mengaburkan kandungan gula sebenarnya, mengecoh konsumen untuk menganggap produk tersebut benar-benar rendah gula. Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Mufti Mubarok, mencontohkan konsumen sering kali terkecoh dengan berbagai klaim pemasaran yang terdengar sehat, padahal kandungan gula, garam, atau lemaknya masih tinggi.
Health Communicator Kalbe Nutritionals, dr Laurencia Ardi, MGizi, AIFO-K, mengatakan anjuran konsumsi gula harian untuk orang dewasa pada dasarnya sama, yakni sekitar 50 gram atau setara 4 hingga 5 sendok makan per hari. Masalahnya, banyak orang tidak menyadari jumlah gula yang masuk dari makanan dan minuman kemasan. “Yang jadi masalah adalah masyarakat Indonesia masih rendah kesadarannya untuk melihat nutrition facts. Padahal di situ sudah tercantum apa saja yang masuk ke tubuh kita,” ujarnya.
Mengapa dan Dampak
Menurut dr Laurencia, gula total pada akhirnya merupakan bagian dari karbohidrat yang akan diubah tubuh menjadi energi. Bila konsumsinya berlebihan, jelas bisa meningkatkan risiko lonjakan gula darah hingga berujung ke diabetes. Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, menekankan selain faktor asupan gula berlebih, minimnya aktivitas fisik juga menjadi alasan kasus diabetes terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
“Yang penting sebenarnya keseimbangan antara asupan dan aktivitas. Generasi sekarang aktivitas fisiknya makin kurang karena semuanya serba mudah,” kata Nadia. Menurutnya, ketika aktivitas fisik berkurang tetapi asupan gula tetap tinggi, risiko obesitas dan diabetes menjadi lebih besar.
Solusi dan Arah ke Depan
Pemerintah tengah merampungkan kebijakan Nutri Level yang saat ini sudah berlaku di pangan siap saji serta menyusul untuk pangan olahan. Label yang menunjukkan tingkatan tinggi gula, garam, lemak, berdasarkan warna dinilai lebih mudah untuk mengkomunikasikan edukasi gizi di masyarakat umum. “Kalau hijau tentu lebih sehat. Kalau sudah kuning perlu hati-hati. Jadi masyarakat tidak perlu membaca informasi yang terlalu rumit, cukup melihat label sederhananya,” ujar Taruna.
Kesadaran masyarakat untuk memperhatikan kandungan gula dalam makanan dan minuman kemasan sangat penting untuk mencegah risiko diabetes. Dengan demikian, masyarakat diharapkan lebih waspada dan bijak dalam memilih produk pangan yang seimbang dan sehat.