Film dokumenter ‘Sunghai’ menjadi medium audio visual baru bagi Kabupaten Trenggalek untuk menjaga sejarah hari jadinya. Film ini mengeksplorasi nilai sejarah di balik Prasasti Kamulan, sebuah peninggalan sejarah yang menjadi dasar legitimasi penanggalan Hari Jadi Trenggalek pada tahun 1116 Saka atau 31 Agustus 1194 Masehi.
Apa yang Terjadi?
Film ‘Sunghai’ merupakan karya sineas muda berbakat Yanu Andi, yang juga bertindak sebagai sutradara dan produser. Proyek ini bermula dari program fasilitasi yang dikucurkan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur. Pihak balai mendampingi seluruh rangkaian proses, mulai dari tahapan riset, produksi, hingga diseminasi berupa pemutaran film dan diskusi interaktif.
Yanu Andi mengungkapkan bahwa keputusan mengambil sudut pandang prasasti ini lahir dari rasa penasaran pribadinya sebagai putra daerah. Selama ini, peninggalan yang diletakkan di depan pendopo kabupaten itu kerap dipandang sebelah mata bagai benda mati belaka.
Mengapa dan Dampak
Mengapa film ‘Sunghai’ ini penting? Menurut Yanu Andi, penyampaian sejarah di era digital tidak boleh kaku. Edukasi tidak bisa lagi hanya mengandalkan kunjungan fisik masyarakat untuk melihat batu prasasti secara langsung. Dibutuhkan medium yang lebih dinamis dan kreatif seperti film atau animasi agar nilai-nilai peradaban masa lalu bisa diserap dengan mudah oleh generasi muda.
Dampak dari film ‘Sunghai’ ini diharapkan dapat menjadi sarana sosialisasi masif mengenai Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK). Peradaban atau nilai-nilai yang ada di Prasasti Kamulan ini bisa dikenal lebih luas. Salah satu cara pengarsipan nilai dari sebuah prasasti adalah melalui audio visual, termasuk film dokumenter.
Tantangan dan Proses Kreatif
Dalam proses pembuatan film ‘Sunghai’, Yanu Andi dan timnya menghadapi tantangan dalam proses riset data. Mengingat risiko distorsi sejarah yang tinggi, mereka menggandeng para ahli arkeologi, pelaku budaya, hingga pegiat sejarah untuk membedah isi prasasti secara akurat.
Proses pengambilan gambar (shooting) film ini tergolong singkat, yakni hanya sepekan saja. Namun, selama proses syuting di lapangan, tim produksi justru dikejutkan dengan penemuan beberapa benda arkeologis secara spontan.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Ke depan, Yanu Andi belum memiliki rencana untuk melakukan komersialisasi dan distribusi luas film ‘Sunghai’. Fokus utamanya saat ini adalah mematangkan diskusi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan selaku penyedia dana (funding) utama agar pemanfaatan edukasi film ini tepat sasaran.
Dengan adanya film ‘Sunghai’, diharapkan masyarakat Trenggalek dan generasi muda dapat lebih memahami dan mengapresiasi nilai sejarah dan budaya yang dimiliki oleh daerahnya. Film dokumenter ini menjadi sebuah karya yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukasi, tetapi juga sebagai upaya pelestarian budaya dan sejarah.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jatim.tribunnews.com/trenggalek/551488/film-dokumenter-sunghai-medium-audio-visual-baru-penjaga-sejarah-hari-jadi-trenggalek, without altering the facts of the original article.