Berita Hari Ini β 12 April 2026 | Alessandro Del Piero, nama yang selalu dihubungkan dengan keanggunan di lapangan hijau, kini muncul dalam perdebatan politik sepakbola Italia. Dalam sebuah wawancara eksklusif, pemilik Napoli, Aurelio Deβ―Laurentiis, menegaskan bahwa Del Piero, bersama legenda lain seperti Paolo Maldini, tidak cocok memimpin Federasi Sepakbola Italia (FIGC). Pernyataan ini menambah deretan suara yang menuntut perubahan struktural dalam pengelolaan sepakbola nasional.
Karier Gemilang Del Piero
Del Piero memulai karier profesionalnya bersama Juventus pada akhir 1990-an, kemudian menjadi ikon klub dengan lebih dari 300 penampilan dan 200 gol. Ia memimpin tim meraih enam gelar Serie A, satu Liga Champions, serta tiga Piala Italia. Di level internasional, Del Piero mencatat 27 penampilan bersama Timnas Italia, termasuk peran penting dalam kemenangan Piala Dunia 2006. Gaya permainan yang elegan, kemampuan mengeksekusi tendangan bebas, dan kepemimpinan di lapangan menjadikannya sosok yang dihormati tidak hanya di Italia, tetapi juga di seluruh dunia.
Pernyataan Deβ―Laurentiis dan Dampaknya
Pada acara di Los Angeles, Deβ―Laurentiis menyinggung dua legenda ItaliaβPaolo Maldini dan Alessandro Del Pieroβdalam konteks pencalonan presiden FIGC. Menurutnya, βorang yang pernah menjadi pemain tidak dapat mengelola politik federasi yang kompleks.β Deβ―Laurentiis menekankan perlunya seorang figur yang dapat berkomunikasi langsung dengan pemerintah, mempengaruhi kebijakan keuangan, serta memperjuangkan pembangunan stadion baru. Ia menyoroti bahwa figur politik harus memiliki kredibilitas untuk βmemanggil Perdana Menteri dan meminta dukungan konkret.β
Mengapa Legenda Tidak Dianggap Cukup?
Alasan utama yang dikemukakan Deβ―Laurentiis berfokus pada kurangnya pengalaman politik dan kemampuan negosiasi tingkat tinggi. Meskipun Del Piero memiliki jaringan luas dalam dunia sepakbola, ia belum pernah terlibat dalam proses legislasi atau hubungan pemerintahβklub yang intensif. Deβ―Laurentiis menambahkan, βpolitik seringkali menimbulkan masalah bagi sepakbola. Kita butuh seseorang yang dapat menyatukan kedua belah pihak.β
Reaksi Publik dan Analisis Pakar
Reaksi dari penggemar dan media beragam. Sebagian memuji keberanian Deβ―Laurentiis untuk menolak kandidat βikonikβ demi kepentingan struktural, sementara yang lain menganggap pernyataan tersebut meremehkan kontribusi Del Piero dalam membangun citra positif sepakbola Italia. Pakar manajemen olahraga, Giulia Bianchi, berpendapat bahwa βkarisma dan integritas Del Piero dapat menjadi aset penting, namun tidak cukup tanpa dukungan tim kebijakan yang kuat.β
Alternatif Kandidat
Deβ―Laurentiis menyebut Giovanni MalagΓ² sebagai kandidat ideal. MalagΓ², yang memiliki latar belakang sebagai presiden CONI, dianggap memiliki jaringan politik dan administratif yang luas. Selain itu, Deβ―Laurentiis menekankan bahwa pemimpin FIGC harus mampu menavigasi krisis keuangan klub-klub Italia serta memfasilitasi pembangunan stadion yang modern, dua isu yang menjadi prioritas utama dalam agenda federasi.
Konsekuensi bagi Masa Depan FIGC
Jika figur politik menjadi standar baru, peran legenda sepakbola mungkin akan beralih ke posisi penasihat atau duta budaya, bukan kepemimpinan administratif. Hal ini dapat memperkuat profesionalisme dalam pengambilan keputusan, namun berisiko mengurangi sentimen emosional yang biasanya dibawa oleh mantan pemain ke dalam kebijakan federasi.
Secara keseluruhan, perdebatan seputar Alessandro Del Piero dan Paolo Maldini menyoroti dilema antara tradisi dan modernisasi dalam sepakbola Italia. Sementara legenda tetap menjadi simbol kebanggaan nasional, kebutuhan akan kepemimpinan yang terampil dalam politik dan ekonomi menjadi faktor penentu dalam memilih presiden FIGC yang mampu membawa Italia kembali ke puncak dunia.
Dengan tekanan dari pemilik klub, media, dan pemerintah, proses seleksi FIGC kemungkinan akan menjadi sorotan utama dalam beberapa bulan ke depan. Bagaimana keputusan akhir akan memengaruhi strategi pengembangan sepakbola nasional, hanya waktu yang akan menjawab.