Transformasi Karier Lulusan SMK: Dari Ruang Kelas Menuju Dunia Industri Berpenghasilan Tinggi di Era Digital
KompetitifMembangun Portofolio Sejak SMK: Strategi Efektif Menarik Perhatian Perusahaan Besar dan Meningkatkan Peluang Karier Profesional
KompetitifMomen Penentu di Menit Akhir
Meningkatnya aktivitas vulkanik itu membuat Ebi khawatir. “Namanya tinggal di pinggir pantai pasti takut. Kita enggak tahu apa yang akan terjadi. Takut kejadian seperti dulu terulang lagi,” kata Ebi. Kekhawatiran Ebi merujuk pada bencana tsunami Selat Sunda yang menghantam pada 2018 silam. “Yang paling parah waktu tsunami dulu. Orang-orang semua mengungsi. Di sini memang enggak separah Tanjung Lesung, tapi tetap kena dampaknya,” ucapnya. Pada 22 Desember 2018 lalu, longsor tubuh barat Gunung Anak Krakatau memicu bencana tsunami hingga 13 meter. Akibatnya, 437 orang tewas, 14.059 luka-luka, dan 33.719 orang kehilangan tempat tinggal di pesisir Banten dan Lampung. Delapan tahun berlalu, Ebi bilang masyarakat kini perlahan bangkit dari bencana tsunami itu. Di kecamatannya, tambahnya, telah tersedia empat jalur evakuasi yang dapat digunakan apabila terjadi bencana.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Namun, tambahnya, rasa trauma masih membekas setiap kali Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan peningkatan aktivitas. “Kalau dengar Gunung Krakatau meletus lagi pasti langsung khawatir. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi seperti tsunami dulu,” pungkasnya. Ebi pun berharap agar pemerintah terus memperkuat upaya mitigasi bencana: Mulai dari sirine peringatan dini, jalur evakuasi, sosialisasi di masyarakat hingga penataan kawasan pesisir. Trauma tsunami 2018 juga masih membekas di benak Yuliyanah, 32 tahun. Dia adalah warga Pulau Sebesi, Lampung, yang berhadapan langsung dengan Gunung Anak Krakatau. “Waktu [2018] itu paniknya minta ampun banget, kami hanya memikirkan cara menyelamatkan diri. Kami terpaksa menginap di gunung dan tidak bisa tidur karena memikirkan kondisi rumah,” kenang Yuliyanah.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Untuk kondisi erupsi kali ini, Yuliyanah bilang aktivitas wisata ke Sebesi masih berjalan lancar tanpa adanya penampakan api. Warga juga, sebutnya, aktif memantau informasi perkembangan lewat media sosial dan aparat setempat. “Harapan kami ke pemerintah supaya lebih mengedepankan masyarakat pantai pesisir yang rawan terdampak tsunami, terutama agar kiranya lebih memfasilitasi sarana dan prasarana keselamatan,” tutur Yuliyanah. Rasa trauma itu diperparah dengan viralnya video yang menarasikan erupsi Gunung Anak Krakatau dengan kobaran api dari atas kapal pada 3 Juli lalu di media sosial. Hal itu diungkapkan warga pesisir di Desa Canti, Lampung Selatan, Deliana. Dengan demikian, peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih harus diawasi dan diantisipasi oleh semua pihak untuk mencegah dampak yang lebih besar di masa depan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cx2jzjl198zo?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.