Anak Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Rafdi Maradjabessy, menjadi sorotan karena memilih bekerja sebagai buruh bangunan meskipun memiliki latar belakang keluarga pejabat. Rafdi sudah menjadi kuli bangunan sejak SMA dan kini sudah berkeluarga.
Pemilihan Jalan Hidup yang Berbeda
Rafdi memilih untuk tidak memanfaatkan jabatan ayahnya sebagai Wali Kota Tidore Kepulauan untuk mendapatkan kemudahan dalam hidup. Ia lebih memilih untuk bekerja keras dan mencari nafkah dengan cara yang halal, meskipun berat. Dengan telapak tangan yang sudah lama kapalan dan badan yang pegal sebelum matahari terbenam, Rafdi membuktikan bahwa ia tidak ingin hidup dari nama ayahnya.
Apa yang Terjadi?
Rafdi sudah menjadi buruh bangunan sejak usia SMA. Ia telah merasakan bagaimana rasanya terik jam sepuluh pagi di lokasi proyek, bagaimana bau semen basah itu menempel di baju sampai malam. Kini, ia sudah dewasa, berkeluarga, dan masih pergi ke proyek setiap pagi.
Mengapa dan Dampak
Rafdi memilih jalan hidup yang berbeda karena ia ingin menjadi dirinya sendiri dan tidak ingin hidup dari nama ayahnya. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa sukses dengan kemampuan sendiri, tanpa harus memanfaatkan jabatan ayahnya. Dampak dari pilihannya ini adalah Rafdi harus bekerja keras setiap hari, tetapi ia juga memiliki kepuasan batin karena dapat membiayai keluarganya dengan uang yang halal.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Kisah Rafdi dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama anak-anak pejabat yang memiliki kesempatan untuk memanfaatkan jabatan orang tua mereka. Rafdi membuktikan bahwa kesuksesan dapat diraih dengan kerja keras dan kemampuan sendiri, tanpa harus bergantung pada nama besar orang tua. Ke depannya, Rafdi masih harus terus bekerja keras untuk membiayai keluarganya dan meraih impianya.