BFI Finance Catat Laba Bersih Rp354,3 Miliar dan Hadapi Penyidikan Penarikan Paksa Lexus
Berita Hari Ini – 30 April 2026 | PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) melaporkan hasil keuangan kuartal I 2026 yang menonjol dengan laba bersih mencapai Rp354,3 miliar, total aset Rp25,3 triliun, serta piutang pembiayaan terkelola sebesar Rp26,8 triliun. Kinerja ini datang di tengah dinamika pasar yang masih dipenuhi ketidakpastian ekonomi.
Kinerja Keuangan Kuartal I 2026
Penjualan pembiayaan baru tercatat Rp5,5 triliun, stabil dibandingkan kuartal sebelumnya, menandakan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan aliran dana meski kondisi makro melambat. Pendapatan total mencapai Rp1,7 triliun, naik 3,1 % secara tahunan. Rasio profitabilitas tetap solid dengan Return on Assets (RoA) 7,0 % dan Return on Equity (RoE) 13,0 %.
Komposisi Portofolio dan Kualitas Pembiayaan
Portofolio BFIN masih didominasi oleh pembiayaan kendaraan roda empat (68,1 %), diikuti oleh pembiayaan alat berat dan mesin (15,0 %), pembiayaan berjaminan properti (8,9 %) dan roda dua (8,0 %). Non‑Performing Financing (NPF) bruto tercatat 1,57 % dan NPF neto 0,25 %; jauh di bawah rata‑rata industri yang berada di kisaran 2,78 %. Dengan coverage ratio 2,71 kali, perusahaan menunjukkan cadangan yang memadai.
Strategi Hati‑hati di Tengah Volatilitas
Presiden Direktur Sutadi menegaskan bahwa pendekatan selektif dan disiplin risiko menjadi kunci utama. BFI Finance terus memperkuat likuiditas (gearing 1,2 kali) dan mengoptimalkan diversifikasi sumber pendanaan, termasuk pelunasan obligasi berkelanjutan V tahap III tahun 2023 tepat waktu. Fitch Ratings mempertahankan peringkat AA-(idn) dengan outlook Stabil, menegaskan kepercayaan investor.
Kasus Penarikan Paksa Mobil Lexus
Pada November 2025, seorang nasabah Surabaya, Andy Pratomo, mengklaim mobil Lexus RX350 senilai Rp1,3 miliar ditarik paksa oleh debt collector BFI Finance dengan dalih tunggakan cicilan. Pratomo menegaskan mobil tersebut dibeli tunai pada September 2025 dan memiliki seluruh dokumen legal. Laporan polisi diajukan sejak Desember 2025 dan pada akhir April 2026 kasus tersebut naik ke tahap penyidikan di Polrestabes Surabaya. Pihak kepolisian telah memanggil cabang Tangerang BFI Finance untuk keterangan, namun hingga kini belum ada Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) resmi kepada korban.
Kasus ini menimbulkan pertanyaan mengenai prosedur penagihan dan reputasi BFI Finance di mata publik. Meskipun perusahaan menegaskan komitmen pada kepatuhan regulasi, insiden ini dapat mempengaruhi persepsi nasabah dan menambah tekanan pada manajemen risiko.
Prospek ke Depan
Dengan fondasi keuangan yang kuat, BFI Finance diprediksi dapat terus menyalurkan pembiayaan, khususnya di sektor kendaraan bermotor, yang tetap menjadi kontributor utama pendapatan. Namun, perusahaan harus mengelola risiko operasional dan reputasi secara simultan, memastikan bahwa proses penagihan tidak menimbulkan konflik hukum yang dapat merusak citra.
Secara keseluruhan, kinerja kuartal I 2026 menunjukkan ketahanan BFI Finance dalam menghadapi tantangan eksternal, namun keberhasilan jangka panjang akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan menyelesaikan isu hukum yang sedang berlangsung sambil mempertahankan disiplin risiko yang telah terbukti.