21 Agustus 2026
featured_image

Tren Media Sosial yang Akan Populer di Tahun 2026

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren SEO Terbaru Tahun 2026 yang Wajib Diketahui

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Roadmap Belajar Digital Marketing dari Pemula hingga Mahir

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tempat Belajar Digital Marketing Gratis dan Berkualitas

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia
BI Rate naik lagi, bunga cicilan kredit berpotensi meningkat. Apakah ini akan menjadi beban baru bagi masyarakat Indonesia?

BI Rate kembali naik, dan pertanyaan besarnya adalah apakah bunga cicilan kredit juga akan meningkat? Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, berpendapat bahwa kenaikan suku bunga acuan ini berpotensi mendorong kenaikan besaran bunga pinjaman menjadi semakin tinggi, yang akhirnya dapat menjadi beban bagi masyarakat.

Kenaikan Suku Bunga Acuan

Kenaikan BI-Rate direspons pasti dengan menaikkan suku bunga, lalu kredit, suku bunga antar bank, maupun bunga deposito itu juga naik. Nantinya biaya cost of fund nanti akan semakin meningkat. Kenaikan suku bunga kredit atau pinjaman perbankan atau lembaga keuangan lainnya akan mempengaruhi mulai dari besaran bunga kredit pemilikan rumah (KPR) hingga bungan kredit cicilan lainnya dalam bentuk apapun.

🔖 Baca juga:
Harga BBM Terbaru: Pertamax Turun Rp 3.300, Cek Daftar Lengkap Jumat 3 Juli 2024

Dampak pada Masyarakat

Untuk masyarakat, apa yang terjadi? Ya bunga KPR, kemudian cicilan-cicilan apapun bentuknya pasti akan naik dan pada akhirnya risiko untuk gagal kredit naik. Nah ini pasti akan sedikit menekan pertumbuhan ekonomi. Risiko kenaikan bunga cicilan ini akan memberatkan pengeluaran masyarakat. Sehingga pada akhirnya jumlah mereka yang mengajukan pinjaman maupun kredit akan berkurang.

Mengapa Kenaikan BI-Rate Dilakukan?

Namun terlepas dari dampak kenaikan BI-Rate terhadap perekonomian ini, Tauhid menilai langkah Bank Indonesia ini sudah tepat. Sebab jika nilai tukar rupiah terus-terusan melemah, maka hal itu berpotensi memberikan dampak yang lebih buruk terhadap pertumbuhan ekonomi ke depan. Ini kan pilihan sulit, karena kan memang saat ini harus dipilih untuk menguatkan nilai tukar. Kalau misalnya sekarang rupiah sudah terlampau jauh dengan target APBN Rp 16.500, otomatis biarkan stabilisasi dulu.

🔖 Baca juga:
Harga Emas Naik Hari Ini, Antam Membuka Galeri 24 dan UBS

Apa Artinya Ini bagi Perekonomian?

Senada, Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal melihat dibalik upaya penguatan mata uang Garuda ini, terdapat risiko peningkatan suku bunga pinjaman. Membuat besaran cicilan kredit masyarakat ikut mengalami kenaikan, entah itu kredit pemilikan rumah (KPR) maupun cicilan-cicilan lainnya. Efeknya terhadap kredit, ya suku bunga kredit jadi akan ada peningkatan. Jadi penyeluruhan kredit ke sektor realnya sekarang yang agak dikorbankan ya untuk stabilisasi nilai tukar gitu.

Kenaikan BI-Rate dan dampaknya terhadap perekonomian ke depan masih perlu diawasi. Namun yang jelas, kenaikan suku bunga acuan ini berpotensi membawa dampak signifikan pada masyarakat, terutama dalam hal peningkatan bunga cicilan kredit. Oleh karena itu, perlu dilakukan langkah-langkah yang tepat untuk memitigasi dampak negatif tersebut dan menjaga pertumbuhan ekonomi yang stabil.

🔖 Baca juga:
ORI030 Raup Rp40 Triliun, Investasi Milenial Dominasi Pemerintah

Tren Media Sosial yang Akan Populer di Tahun 2026

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tren SEO Terbaru Tahun 2026 yang Wajib Diketahui

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Roadmap Belajar Digital Marketing dari Pemula hingga Mahir

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tempat Belajar Digital Marketing Gratis dan Berkualitas

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *