7 Juli 2026
featured_image

Tokopedia PHK Karyawan: Kronologi, Alasan, dan Dampaknya bagi Industri E-Commerce Indonesia

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Info Lowongan Kerja Waiter

Kompetitif
Full Time Entry
Langit Rasa ✅ 📍 Tangerang, Banten

Info Lowongan Kerja SALES EXECUTIVE

Kompetitif
Full Time Entry
PT KARYA BINTANG GEMILANG ✅ 📍 Bogor, Jawa Barat

Info Lowongan Kerja Customer service Morning Shift (WFH)

Kompetitif
Full Time Entry
PT Rental Teknologi Indonesia ✅ 📍 Jakarta Raya
BRIN mengwarnai potensi kemarau berkepanjangan pada 2026, bukan El Nino. Apa dampaknya bagi Indonesia dan bagaimana kita harus bersiap?

Kemarau Berkepanjangan Mengancam pada 2026

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan Indonesia tidak menghadapi ancaman Godzilla El Niño pada 2026. Namun, kemarau berkepanjangan dan risiko kekeringan tetap perlu diwaspadai. Berdasarkan hasil analisis berbagai model iklim dunia, kondisi iklim global saat ini lebih mengarah pada El Niño kategori moderat dengan peluang sekitar 27 persen. El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mengganggu pola pembentukan awan hujan di Indonesia.

Apa yang Terjadi?

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, menjelaskan bahwa El Niño 2026 diperkirakan tidak akan mencapai tingkat ekstrem. Namun, musim kemarau diprediksi berlangsung lebih lama dengan curah hujan yang berada di bawah rata-rata klimatologis. Puncak musim kemarau tahun 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus. Sejumlah wilayah di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat seperti Bekasi, Cirebon, Kuningan, dan Kota Bandung, berpotensi mengalami kondisi sangat kering. Peluang terjadinya kemarau yang lebih panjang mencapai sekitar 81 persen.

Mengapa dan Dampak

El Niño terjadi karena pergeseran pusat pembentukan awan ke arah Pasifik Tengah sehingga curah hujan di Indonesia berkurang secara signifikan. Dalam kondisi normal, perairan Indonesia yang hangat menjadi pusat pembentukan awan dan hujan. Namun, saat El Niño terjadi, pusat pembentukan awan bergeser ke arah Pasifik Tengah. BRIN menemukan adanya sinyal peningkatan risiko El Niño ekstrem pada periode akhir 2027 hingga pertengahan 2028. Melalui pendekatan analisis stokastik menggunakan Persamaan Fokker-Planck, peluang kemunculan Godzilla El Niño pada periode tersebut diperkirakan meningkat hingga mendekati 40 persen. Temuan ini menjadi peringatan dini bagi pemerintah untuk mulai menyiapkan strategi mitigasi jangka menengah.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

BRIN telah mengembangkan berbagai teknologi mitigasi berbasis riset untuk menghadapi dampak kemarau panjang. Salah satunya adalah sistem pemantauan lahan gambut secara real time melalui platform Ina-Carbon, yang mampu memonitor tinggi muka air tanah, kelembapan tanah, curah hujan, dan kualitas udara. Sistem ini dapat mendeteksi kondisi kritis lahan gambut satu hingga dua hari sebelum kejadian. Dengan demikian, pemerintah dan masyarakat dapat lebih waspada dan siap menghadapi kemarau berkepanjangan pada 2026. Selain itu, BRIN juga mengingatkan bahwa Indonesia masih memiliki waktu untuk menyiapkan strategi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Dengan kerja sama dan koordinasi yang baik, Indonesia dapat mengurangi risiko dampak kemarau berkepanjangan dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.

Tokopedia PHK Karyawan: Kronologi, Alasan, dan Dampaknya bagi Industri E-Commerce Indonesia

Kompetitif
Full Time Entry
Perusahaan Terpercaya ✅ 📍 Indonesia

Info Lowongan Kerja Waiter

Kompetitif
Full Time Entry
Langit Rasa ✅ 📍 Tangerang, Banten

Info Lowongan Kerja SALES EXECUTIVE

Kompetitif
Full Time Entry
PT KARYA BINTANG GEMILANG ✅ 📍 Bogor, Jawa Barat

Info Lowongan Kerja Customer service Morning Shift (WFH)

Kompetitif
Full Time Entry
PT Rental Teknologi Indonesia ✅ 📍 Jakarta Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *