Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, atau yang akrab disapa Om Zein, dilaporkan ke publik karena lagu yang dinilai merendahkan perempuan. Lagu berjudul “Lalaki Langit Lalanang Jagat” tersebut dianggap memiliki lirik yang tidak pantas dan membandingkan kondisi biologis perempuan dengan nada bercanda. Anggota DPR RI Komisi VIII, Atalia Praratya, juga memberikan tanggapan terkait lagu tersebut dan menyatakan bahwa lagu itu tidak memiliki sisi lain selain nada yang merendahkan perempuan.
Apa yang Terjadi?
Lagu “Lalaki Langit Lalanang Jagat” diciptakan oleh Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, dan dilaporkan sudah dibuat sejak Januari 2026. Namun, lagu tersebut baru ramai dibicarakan belakangan ini karena dianggap memiliki lirik yang merendahkan perempuan. Lirik lagu tersebut menyinggung sejumlah topik terkait kondisi biologis perempuan, di antaranya keguguran, penggunaan pakaian dalam, hingga siklus menstruasi.
Dalam unggahan yang dibagikan oleh Atalia Praratya, disebutkan bahwa lagu tersebut berkaitan dengan acara adat di wilayah Purwakarta. Namun, banyak pihak yang mengkritik lagu tersebut karena dianggap tidak pantas dan merendahkan perempuan. “Waktu acara Hajat Bumi di Linggamurti Purwakarta, Bupati Binzen ini bilang, ‘Ya ayo lestarikan bahasa Sunda karena bahasa Sunda tuh bahasa ibu. Hao hakeng kita pertama tuh bahasa Sunda gitu ya.’ Emang kalau misalkan kita ingat-ingat lagi ke belakang gitu ya, pemimpin-pemimpin kita ini suka banget melekatkan identitas kesundaannya, tak terkecuali Binzen,” tulis pemilik akun Instagram @arinijoeseof.
Mengapa dan Dampak
Lirik lagu tersebut dianggap merendahkan perempuan karena membandingkan kondisi biologis perempuan dengan nada bercanda. “Terima kasih Tuhan telah menciptakanku sebagai laki-laki, sebab kalau aku jadi perempuan, SMP kelas 3 aku udah keguguran 7 kali. Makasih Tuhan sudah menciptakanku sebagai laki-laki, aku jadi enggak usah beli kutang yang busanya lebih besar dari payudara. Terima kasih Tuhan sudah menciptakanku sebagai laki-laki, tak usah berkeliling apotek kalau telat datang bulan,” tulis lirik lagu tersebut.
Kritikus认为 bahwa lagu tersebut tidak pantas dan merendahkan perempuan. “Kalau misalkan kita lihat, lagu itu merupakan bentuk syukur seseorang telah sebagai laki-laki. Tapi, kemudian? Apakah layak kita menuturkan syukur kepada sesuatu yang adiluhung, kepada sesuatu yang kita agung-agungkan, dengan konstruksi lirik yang superior habis? Dan kenapa menstruasi, beli kutang, reproduksi, kehamilan, itu dijadikan olok-olok?” tulis @arinijoeseof.
Dampak dari lagu tersebut adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menghormati perempuan dan tidak merendahkan mereka. “Sebagai perempuan aku merasa tak aman, sebagai orang Sunda aku merasa dipermalukan,” tulis @arinijoeseof.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, masih harus menempuh jalan panjang untuk memulihkan citranya dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menghormati perempuan. Atalia Praratya juga menyatakan bahwa lagu tersebut tidak memiliki sisi lain selain nada yang merendahkan perempuan. “Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” tulis Atalia Praratya.
Kedepannya, diharapkan Bupati Purwakarta dan masyarakat dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menghormati perempuan dan tidak merendahkan mereka. “Jangan bawa-bawa identitas kesundaan, jangan bawa-bawa budaya kesundaan kalau misalkan kamu cuma ingin mengolok-olok perempuan,” tulis @arinijoeseof.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.brilio.net/serius/bupati-purwakarta-rilis-lagu-yang-dinilai-rendahkan-perempuan-atalia-praratya-miris-tahu-liriknya-260701p.html, without altering the facts of the original article.