Harga cabai rawit merah di Sidrap telah mencatat rekor kenaikan, menembus Rp85 ribu per kilogram, dan menambah beban bagi pedagang serta konsumen di wilayah tersebut.
Perubahan Harga di Pasar Sentral Pangkajene
Pada Senin (28/9/2026), data pemantauan harga Pasar SP2KP Tipe A di Pasar Sentral Pangkajene, Kecamatan Maritengngae, menunjukkan bahwa harga cabai rawit merah meningkat dari Rp80 ribu menjadi Rp85 ribu per kilogram. Kenaikan ini setara dengan 6,25 persen, menandai lonjakan harga yang signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Saat ini, harga cabai rawit merah kembali mendekati level Rp100 ribu per kilogram, menandakan tren kenaikan yang terus berlanjut.
Faktor Penyebab Terbatasnya Pasokan
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Sidrap, Irwin Hatibu, mengungkapkan bahwa kenaikan harga berkaitan dengan terbatasnya pasokan. Menurutnya, pedagang mengeluhkan stok cabai rawit merah yang semakin sulit diperoleh. “Waktu kami turun ke pasar, kami bertanya sama penjual. Mereka juga mengeluh karena permintaan banyak sementara stok sedikit. Ini jadi salah satu penyebab kenapa harga cabai rawit makin tinggi,” kata Irwin melalui pesan WhatsApp.
Pedagang juga melaporkan kesulitan mendapatkan cabai rawit merah dari sejumlah daerah pemasok. Kondisi tersebut membuat jumlah cabai yang masuk ke pasar tidak sebanding dengan permintaan konsumen. Akibatnya, tekanan harga tidak hanya berada di tingkat pedagang, tetapi juga di rantai pasokan dari daerah produksi menuju pasar.
Dampak terhadap Pedagang dan Konsumen
Stok menipis membuat pedagang kesulitan menyiapkan persediaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar. Hal ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan, yang pada gilirannya mendorong harga lebih tinggi. Bagi konsumen, kenaikan harga ini berarti biaya tambahan dalam pengeluaran harian, terutama bagi keluarga yang mengandalkan cabai rawit merah sebagai bahan utama masakan.
Pedagang mengungkapkan bahwa mereka harus mencari alternatif pemasok atau menyesuaikan harga jual mereka agar tetap dapat bersaing di pasar. Namun, keterbatasan stok membuat opsi tersebut terbatas, sehingga banyak pedagang terpaksa menaikkan harga jual mereka, yang kemudian memicu siklus kenaikan harga lebih lanjut.
Perbandingan Harga Cabai Lainnya
Berbeda dengan cabai rawit merah, harga cabai rawit hijau tetap berada di angka Rp35 ribu per kilogram. Cabai keriting mengalami kenaikan kecil, naik dari Rp46 ribu menjadi Rp48 ribu per kilogram, atau meningkat 4,35 persen. Sementara itu, harga cabai merah besar justru turun, menurun dari Rp40 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak merata di semua jenis cabai, melainkan lebih terkonsentrasi pada cabai rawit merah.
Potensi Kenaikan Harga Selanjutnya
Pedagang mengekspresikan kekhawatiran bahwa harga cabai rawit merah dapat naik lebih tinggi lagi jika pasokan tidak segera menambah. Ancaman kenaikan harga di masa depan menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar. Dalam situasi seperti ini, penting bagi pihak berwenang untuk memantau pasokan secara ketat dan menyediakan mekanisme intervensi, seperti penyaluran stok darurat atau insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi.
Kesimpulan dan Harapan
Kenaikan harga cabai rawit merah di Sidrap mencerminkan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan yang terus berlanjut. Stok yang menipis, kesulitan dalam memperoleh cabai dari daerah pemasok, dan tekanan harga di rantai pasokan semuanya berkontribusi pada lonjakan harga. Pedagang dan konsumen merasakan dampak langsung, sementara harga cabai jenis lain tetap stabil atau bahkan turun. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya koordinasi antara pemerintah, petani, dan pedagang guna memastikan pasokan yang cukup dan mencegah kenaikan harga lebih tinggi lagi di masa depan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://makassar.tribunnews.com/sidrap/1852268/harga-cabai-rawit-merah-di-sidrap-tembus-rp85-ribu-pedagang-keluhkan-stok-menipis, without altering the facts of the original article.