Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Senin setelah sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan pada sesi sebelumnya. Kenaikan terjadi seiring meningkatnya optimisme terhadap proses perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang turut menekan harga minyak dunia. Harga emas spot tercatat naik 0,6% menjadi US$ 4.183 per ons.
Faktor yang Mempengaruhi Harga Emas
Mengutip CNBC, harga emas sebelumnya sempat jatuh ke level terendah sejak 11 Juni pada perdagangan Jumat lalu. Analis Saxo Bank, Ole Hansen, mengatakan bahwa pergerakan harga energi masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar logam mulia dalam jangka pendek. “Harga energi akan tetap menjadi pendorong utama dalam jangka pendek bagi pasar logam mulia,” ujar Hansen.
Perkembangan negosiasi antara AS dan Iran yang masih berlangsung di Swiss mengarah pada kemungkinan tercapainya kesepakatan yang dapat meningkatkan pasokan minyak mentah ke pasar global. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga minyak, sekaligus menciptakan sentimen positif bagi emas. Hansen menambahkan bahwa pasar melihat peluang meningkatnya suplai minyak global apabila kesepakatan antara kedua negara benar-benar tercapai.
Dampak Negosiasi AS-Iran terhadap Harga Minyak
Sejumlah mediator mengungkapkan pejabat AS dan Iran telah menunjukkan kemajuan yang menggembirakan dalam putaran pertama perundingan yang berakhir lebih awal pada Senin pagi. Meski demikian, sejumlah isu sensitif masih menjadi tantangan, termasuk ketegangan terkait Lebanon dan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Sentimen tersebut langsung memengaruhi pasar energi. Harga minyak mentah Brent tercatat merosot lebih dari 3% setelah kabar kemajuan perundingan tersebut diumumkan.
Apa Artinya Ini bagi Investor?
Penurunan harga minyak dinilai membantu meredakan kekhawatiran inflasi yang selama ini menjadi perhatian utama investor global. Di sisi lain, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 89%. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan 61% sebelum pertemuan Federal Reserve (The Fed) pekan lalu.
Dari total 19 pejabat pembuat kebijakan The Fed, sebanyak sembilan orang masih meyakini suku bunga acuan perlu dinaikkan tahun ini. Meski sering dianggap sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, emas biasanya kehilangan daya tarik ketika suku bunga meningkat. Pasalnya, emas tidak memberikan imbal hasil sehingga menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen investasi berbunga.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Dalam catatan riset yang dirilis Jumat lalu, Bank of America menyebut target harga emas di level US$ 6.000 per ons masih sulit tercapai dalam waktu dekat. Untuk mencapai level tersebut, pasar harus sepenuhnya menghapus ekspektasi kenaikan suku bunga dari perhitungan harga. Meski demikian, Bank of America menilai faktor utama yang mendukung prospek kenaikan emas masih tetap berlaku, yakni kebijakan ekonomi makro Amerika Serikat yang dinilai tidak konvensional dan berpotensi menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on the original news source, without altering the facts of the original article.