Kemenkes menjadi pusat perhatian dalam upaya pemulihan korban gempa NTT, dengan rencana layanan kesehatan mental khusus yang akan diluncurkan setelah fokus awal pada kesehatan fisik dan penyelamatan nyawa.
Langkah Awal: Menangani Kesehatan Fisik dan Penyuluhan
Setelah gempa melanda NTT, tim Kemenkes menempatkan prioritas utama pada penanganan kesehatan fisik. Seperti yang dijelaskan dalam acara temu media di Kantor Kemenkes, Jumat (28/8/2026), Dante, perwakilan Kemenkes, menegaskan bahwa âitu (trauma psikis) itu juga menjadi bagian terintegrasi dalam penanganan pasien-pasien gempa di daerah pengungsian.â Fokus awal dua minggu pertama adalah menyelamatkan nyawa dan mengatasi kondisi medis yang mendesak.
Dalam periode tersebut, Kemenkes bekerja sama dengan berbagai lembaga, termasuk universitas yang mengirimkan relawan untuk membantu secara psikis. Pendekatan ini menunjukkan bahwa meski kesehatan mental belum menjadi prioritas utama, Kemenkes mengakui pentingnya integrasi layanan kesehatan fisik dan psikologis dalam penanganan korban.
Peran Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) dalam Pendekatan Terpadu
Setelah fase penyelamatan, Kemenkes memperluas peran tenaga cadangan kesehatan (TCK). Dante menjelaskan bahwa TCK akan melakukan pendekatan fisik dan mental sekaligus, serta berkoordinasi dengan lintas kementerian. âKita bekerja sama dengan Kementerian Sosial dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk kesehatan anak, remaja, serta wanita,â ujarnya. Langkah ini menunjukkan komitmen Kemenkes untuk menjadikan layanan kesehatan mental bagian integral dari upaya pemulihan.
Pengiriman TCK juga memfasilitasi penyuluhan kesehatan mental secara berkala. Pada pekan ketiga setelah bencana, fokus utama akan beralih ke aspek kesehatan mental dan beban traumatik. Dante menegaskan bahwa âkita dalam dua minggu pertama ini masalah fisiknya dulu, yang terkendala dan hampir wafat kalau tidak ditangani cepat, itu harus kita tangani dulu.â Namun, ia juga menyoroti bahwa âpemulihan secara mental korban pengungsian sudah mulai berjalan secara berkala.â
Target Khusus: Anak-anak dan Kelompok Rentan
Dalam upaya mengatasi trauma, Kemenkes menempatkan anak-anak sebagai kelompok paling rentan. Pendekatan ini mencakup koordinasi dengan kementerian terkait, memastikan bahwa layanan kesehatan mental dapat menjangkau anak-anak, remaja, dan perempuan. Pendekatan terpadu ini bertujuan untuk mengurangi dampak jangka panjang dari trauma yang dialami korban gempa.
Dengan melibatkan tenaga kesehatan mental dari berbagai latar belakang, Kemenkes berusaha menciptakan lingkungan yang aman bagi korban untuk mengekspresikan perasaan dan mengatasi trauma. Ini juga membantu mengidentifikasi kebutuhan khusus bagi anak-anak yang mungkin memerlukan intervensi lebih intensif.
Implementasi Layanan Kesehatan Mental Khusus
Rencana layanan kesehatan mental khusus Kemenkes akan diluncurkan pada pekan ketiga setelah bencana. Pada fase ini, Kemenkes akan menempatkan tenaga psikolog, psikiater, dan konselor di daerah pengungsian. Layanan ini akan mencakup sesi konseling individu, kelompok, serta program rehabilitasi psikososial yang berfokus pada pemulihan trauma.
Selain itu, Kemenkes akan memanfaatkan teknologi untuk memantau kondisi mental korban secara real-time. Data yang dikumpulkan akan membantu tim medis dalam menyesuaikan intervensi sesuai kebutuhan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Kemenkes tidak hanya fokus pada penyelamatan fisik, tetapi juga menyiapkan infrastruktur untuk dukungan kesehatan mental jangka panjang.
Dampak Positif dan Tantangan yang Dihadapi
Dengan memprioritaskan layanan kesehatan mental, Kemenkes berharap dapat mengurangi risiko gangguan psikologis yang berkepanjangan. Dampak positif ini tidak hanya terlihat pada tingkat individu, tetapi juga pada stabilitas sosial di daerah terdampak. Masyarakat yang menerima dukungan mental akan lebih mampu menghadapi tantangan pasca bencana, seperti kehilangan tempat tinggal dan sumber pendapatan.
Namun, tantangan tetap ada. Kemenkes harus memastikan alokasi sumber daya yang cukup untuk mendukung layanan kesehatan mental, terutama di daerah terpencil. Koordinasi lintas kementerian juga memerlukan sinergi yang kuat agar program dapat berjalan lancar. Kemenkes berencana mengatasi hambatan ini dengan memanfaatkan jaringan relawan dan tenaga profesional yang telah ada.
Visi Jangka Panjang Kemenkes dalam Pemulihan Trauma
Kemenkes memiliki visi jangka panjang untuk menciptakan sistem kesehatan mental yang berkelanjutan. Rencana ini mencakup pelatihan berkelanjutan bagi tenaga medis, pengembangan protokol penanganan trauma, dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental. Dengan dukungan lintas sektor, Kemenkes berharap dapat membangun fondasi kesehatan mental yang kuat bagi generasi mendatang.
Melalui pendekatan terpadu ini, Kemenkes menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga memulihkan kualitas hidup korban gempa NTT. Layanan kesehatan mental khusus menjadi bagian penting dalam upaya pemulihan yang holistik dan berkelanjutan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8638705/kemenkes-bakal-beri-layanan-kesehatan-mental-bantu-pulihkan-trauma-korban-gempa-ntt, without altering the facts of the original article.