Iran kembali meningkatkan ketegangan di Timur Tengah setelah menyerang sebuah kapal kargo di kawasan Selat Hormuz. Harga minyak dunia pun melonjak tinggi menyusul insiden tersebut, yang kembali memicu kekhawatiran pasar bahwa ketegangan di wilayah tersebut masih berpotensi mengganggu pasokan energi global. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik lebih dari 2% menjadi US$ 71,92 per barel, sementara minyak mentah acuan global Brent menguat 2,1% dan ditutup di level US$ 75,26 per barel.
Momen Penentu di Menit Akhir
Seorang pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa Iran berada di balik serangan terhadap sebuah kapal kargo di dekat Dahit, Oman. Pejabat tersebut mengatakan penilaian apakah serangan itu melanggar nota kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran akan bergantung pada sikap Gedung Putih. Sebelumnya, harga minyak sempat kehilangan seluruh penguatan yang terjadi setelah perang karena pelaku pasar mulai optimistis pasokan minyak global akan membaik.
Optimisme itu muncul setelah kapal-kapal tanker yang selama berbulan-bulan tertahan di Teluk Persia mulai kembali melintasi Selat Hormuz. Berdasarkan data perusahaan pelacak perdagangan energi Kpler, lebih dari 20 kapal tanker yang mengangkut sekitar 35 juta barel minyak mentah telah melewati Selat Hormuz sejak Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk kembali membuka jalur pelayaran strategis tersebut.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Citi menilai tekanan terhadap strategi investasi berbasis kurva harga komoditas (curve-carry strategies) kemungkinan telah mencapai titik terburuk. Strategi tersebut sebelumnya terpukul akibat lonjakan harga minyak jangka pendek selama konflik AS-Iran. Menurut Citi, skenario utama saat ini adalah terjadinya deeskalasi yang lebih besar di kawasan. Bank investasi tersebut memperkirakan harga minyak Brent berpotensi turun ke kisaran US$60â65 per barel dalam enam hingga 12 bulan ke depan seiring normalisasi arus pengiriman melalui Selat Hormuz.
Citi juga menilai jika terjadi kenaikan harga minyak yang bersifat sementara selama musim panas, penguatan tersebut kemungkinan tidak akan bertahan lama. Meski demikian, risiko geopolitik masih membayangi pasar. Pada Kamis, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz hanya akan diizinkan melalui jalur yang ditetapkan oleh Teheran.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
IRGC juga menegaskan bahwa kapal-kapal yang tidak mematuhi instruksi transit akan menghadapi tindakan dari otoritas Iran. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun jalur pelayaran telah kembali dibuka, potensi gangguan terhadap salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia masih tetap tinggi. Dengan demikian, pelaku pasar masih harus waspada terhadap risiko geopolitik yang dapat mempengaruhi pasokan energi global.
Keseluruhan situasi ini menunjukkan bahwa ketegangan di Timur Tengah masih berpotensi mempengaruhi pasar energi global. Oleh karena itu, pelaku pasar harus terus memantau perkembangan situasi dan melakukan penyesuaian strategi investasi yang tepat untuk menghadapi ketidakpastian ini.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.liputan6.com/bisnis/read/7999291/harga-minyak-melonjak-usai-iran-serang-kapal-di-selat-hormuz, without altering the facts of the original article.