Kekhawatiran Konflik Timteng Tekan Indeks Nikkei Terburuk dalam Sebulan
Berita Hari Ini – 22 Agustus 2026 | Indeks saham Jepang, Nikkei 225, mencatatkan penurunan terburuk dalam lebih dari sebulan terakhir, ditutup 0,3% lebih rendah pada level 66.016,36. Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya ketidakpastian terkait konflik di Timur Tengah yang menyebabkan lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi. Dalam sepekan, Nikkei mengalami penurunan sekitar 4%, yang merupakan penurunan terbesar sejak minggu yang berakhir 17 Juli.
Di sisi lain, indeks yang lebih luas, Topix, sedikit meningkat 0,2% dalam sesi terakhir, namun tetap mencatatkan kerugian 3,1% untuk minggu tersebut, yang juga merupakan penurunan terburuk sejak awal Maret. Kenaikan harga minyak dan hasil obligasi Jepang yang lebih tinggi menambah tekanan pada pasar saham.
Menurut Scott Bessent, Sekretaris Keuangan AS, Amerika Serikat akan memberlakukan sanksi terberat dalam sejarah terhadap Iran, yang berupaya untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama hampir enam bulan. Lonjakan harga minyak mentah sekitar $2 dalam semalam menambah ketidakpastian di pasar, mengingat Jepang mengimpor sekitar 95% kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah, dengan sekitar 70% pasokan melewati Selat Hormuz.
Saham-saham utama juga tertekan, termasuk Fast Retailing, operator Uniqlo, yang mengalami penurunan 3,6%, menjadikannya salah satu penyebab utama tekanan pada indeks Nikkei. Saham SoftBank Group, yang fokus pada investasi di startup berbasis AI, juga turun 2,5%.
Pada saat yang sama, pasar Asia lainnya juga mengalami penurunan mengikuti kerugian di Wall Street. Indeks S&P 500 turun 0,9%, tertekan oleh penurunan tajam Walmart setelah laporan penjualan yang mengecewakan. Sementara itu, Nasdaq 100 mencatatkan kerugian hari kelima berturut-turut. MSCI Asia Pasifik turun 0,2% pada hari yang sama.
Di sisi lain, pasar obligasi Jepang menunjukkan kenaikan hasil, dengan obligasi pemerintah 10 tahun mengalami kenaikan 3 basis poin menjadi 2,875% pada hari Jumat. Kenaikan hasil ini menunjukkan bahwa investor cenderung mengambil keuntungan menjelang akhir pekan, sementara harga minyak dan hasil obligasi yang tinggi menambah ketidakpastian di pasar.
Pasar juga merespons pengumuman pemerintah AS tentang rencana untuk menggandakan ukuran buyback untuk utang jangka panjang. Langkah ini bertujuan untuk mengatasi kenaikan biaya pinjaman setelah hasil utang 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007. Hal ini menciptakan sentimen positif di pasar global, meskipun kekhawatiran tentang harga minyak tetap menjadi faktor utama bagi investor.
Investor saat ini sangat memperhatikan perkembangan di Timur Tengah, mengingat ketegangan yang terus berlanjut dapat berdampak lebih lanjut pada harga minyak dan pasar saham secara keseluruhan. Dengan meningkatnya kekhawatiran inflasi dan ketidakpastian geopolitik, banyak analis memprediksi bahwa pasar akan tetap volatile dalam waktu dekat.
Secara keseluruhan, situasi ini menunjukkan bahwa pasar saham Jepang dan Asia secara keseluruhan menghadapi tantangan besar akibat faktor eksternal yang mempengaruhi stabilitas ekonomi regional.