Krisis Biaya Hidup di Bali: Pendatang Lokal Kian Terhimpit
Bali, yang dikenal sebagai surga pariwisata, kini menghadapi krisis biaya hidup yang menghimpit pendatang lokal. Harga kos yang melonjak tinggi membuat banyak orang kesulitan mencari tempat tinggal yang terjangkau. Ardiansyah, seorang pendatang dari Bima, Nusa Tenggara Barat, adalah salah satu contoh. Dia hijrah ke Bali dua tahun lalu dengan niat mengubah nasib, namun kini kesulitan mencari kamar kos yang harganya di bawah Rp1 juta.
Ardiansyah (30) senang bukan main saat mendapat pekerjaan pada hari ketiga ia menginjakkan kakinya di Bali. Dia hijrah dari Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan niat mengubah nasib. Ardi datang ke Bali bermodalkan nekat dua tahun lalu, tanpa pengalaman atau keahlian tertentu. Dia mengikuti sepupunya yang sudah lebih dulu menetap di Bali. Uang yang dikantonginya pun tak banyak, bahkan tak mampu untuk menyewa kamar kos-kosan.
Momen Penentu di Menit Akhir
Ardiansyah masih berbagi kamar kos dengan sepupunya hingga saat ini. Sementara, usahanya menggemukkan tabungan berjalan seperti jam pasir. Kalaupun ia harus memaksakan diri untuk tinggal di kamar kos sendiri, biayanya akan menguras nyaris 50% dari gajinya. “Sudah empat bulan terakhir ini saya cari kamar kos di bawah Rp1 juta, belum dapat. Maunya tinggal sendiri, biar punya privasi dan juga dekat dari tempat kerja. Tapi, selalu penuh. Kalau pun ada, harganya di atas Rp1 juta. Bisa saja dipaksakan, tapi saya bakal nombok untuk biaya hidup lainnya, seperti makan dan bensin,” terang Ardi.
Sebagai solusi jangka pendek, dia pun memutuskan berbagi kamar kos dengan temannya yang tinggal tak jauh dari tempatnya bekerja. Patungan adalah ‘jalan tikus’ untuk berhemat di tengah tingginya biaya hidup di Bali dan rendahnya pendapatan pekerja lokal.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Yanresa Utami (39), karyawan swasta di perusahaan bonafide di Jakarta, terpaksa mengurungkan cita-citanya untuk menikmati slow living di Bali. Rencananya tersandung tingginya biaya hidup di Pulau Dewata. Harga kamar kos di lokasi strategis dengan fasilitas standar, yaitu satu unit AC, kamar mandi di dalam, tempat tidur dan lemari, dibanderol sampai di atas Rp 5 juta per bulan. Sebagai perbandingan, dengan fasilitas serupa di Jakarta, ia memperkirakan harganya cuma Rp 2,5 juta-Rp 3 juta.
Yanresa sempat menjajal kehidupan di Bali selama satu bulan. Ia mengambil cuti tanpa gaji dari perusahaannya dan tinggal di Bali. Tantangan utamanya, mencari kamar kos layak sesuai budget. Alih-alih mendapatkan kamar kos, ia justru berakhir berbagi rumah dengan pasangan lansia lokal yang menyewakan satu kamar kosong di rumahnya.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Krisis biaya hidup di Bali ini memiliki dampak yang signifikan bagi pendatang lokal. Banyak orang yang terpaksa mengurungkan cita-citanya untuk menetap di Bali karena biaya hidup yang tinggi. “Untuk makan masih affordable. Tapi tempat tinggal mahal banget, dua kali lipat lebih dari Jakarta,” katanya meringis.
Elza S (35) punya cerita unik dan berbeda demi bertahan hidup di pulau yang didapuk jadi surga pariwisata dunia tersebut. Caranya, dengan bekerja di area dengan pariwisata tersibuk, yaitu di Kuta, Kabupaten Badung, tapi tinggal di Batu Bulan, Kabupaten Gianyar. Keuntungannya, ia dapat mengantongi gaji lebih tinggi di atas Upah Minimum Regional (UMR), tetapi berhemat dengan membayar kos di bawah Rp 1 juta.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Krisis biaya hidup di Bali ini masih akan berlanjut jika tidak ada solusi yang efektif. Pemerintah perlu memperhatikan masalah ini dan mencari solusi yang tepat untuk membantu pendatang lokal. “Gajiku Rp 6,5 juta di toko bermerk internasional. Saya rasa, gaji segitu cukup untuk hidup di Jakarta, tapi di Bali, masih belum cukup,” katanya.
Dalam jangka panjang, krisis biaya hidup di Bali ini dapat berdampak pada perekonomian daerah. Banyak pendatang lokal yang terpaksa meninggalkan Bali karena biaya hidup yang tinggi, sehingga dapat mengurangi pendapatan daerah. Oleh karena itu, perlu ada solusi yang efektif untuk mengatasi masalah ini.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c5yzk70qzn3o?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.