Krisis Pasokan Bensin AS: Morgan Stanley Prediksi Stok Terendah Sejak 2012
Berita Hari Ini – 07 Mei 2026 | Analisis terbaru dari Morgan Stanley mengindikasikan bahwa pasokan bensin AS akan menyentuh level terendah dalam lebih dari satu dekade. Menurut catatan yang dirilis pada 6 Mei 2026, perkiraan persediaan bensin nasional diprediksi turun di bawah 200 juta barel pada akhir Agustus 2026. Angka ini tidak hanya melampaui rekor terendah musiman sebelumnya, tetapi juga menandai titik kritis pertama sejak Oktober 2012, menurut data Badan Informasi Energi (EIA).
Latar Belakang Pasokan
Per akhir April 2026, total persediaan bensin AS tercatat sebesar 222 juta barel, angka terendah sejak 2014. Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan signifikan impor bensin ke Pantai Timur, yang biasanya menjadi sumber pasokan utama pada musim panas. Morgan Stanley menyoroti bahwa mekanisme pasokan ulang tradisional dari Eropa dan Timur Tengah telah hampir berhenti, terutama setelah kiriman besar dari Arab Saudi, Malaysia, dan wilayah Amerika (ARA) menghilang dari pasar.
Faktor Penyebab Penurunan
- Impor yang Terhenti: Pembatasan pengiriman dari Timur Tengah dan Asia menurunkan volume bensin yang masuk ke pelabuhan Pantai Timur.
- Prioritas Kilang: Margin keuntungan yang lebih tinggi pada diesel dan avtur, dipengaruhi oleh ketegangan di Selat Hormuz, mendorong kilang meningkatkan produksi bahan bakar tersebut dan mengurangi output bensin.
- Ekspor Tinggi: Permintaan luar negeri terhadap bensin AS tetap kuat, mengalihkan barel yang seharusnya dipasok pasar domestik ke pembeli internasional.
Dampak pada Harga
Penurunan persediaan yang signifikan diperkirakan akan memperlebar selisih antara harga berjangka bensin dan minyak mentah Brent, yang disebut “gasoline crack spread”. Pada Juli 2026, selisih ini diproyeksikan mencapai USD 40 per barel, dan dalam skenario ekstrim dapat mendekati USD 45‑50 per barel. Kenaikan selisih ini biasanya diterjemahkan menjadi harga eceran yang lebih tinggi di pompa bensin.
Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan rata‑rata konsumen AS membayar sekitar USD 4,48 per galon pada hari Senin. Jika tekanan pasokan berlanjut, angka tersebut dapat melambung, menambah beban pada rumah tangga yang sudah merasakan kenaikan biaya hidup akibat harga energi yang tinggi.
Proyeksi dan Skenario
Dalam skenario dasar, Morgan Stanley memperkirakan stok bensin akan mencapai 198 juta barel pada akhir Agustus 2026. Namun, dalam skenario paling ekstrem—dengan gangguan pasokan yang berlanjut selama satu hingga dua bulan—stok dapat turun hingga 190 juta barel. Pada titik itu, selisih harga bensin terhadap Brent dapat berada di kisaran USD 45‑50 per barel, menambah volatilitas pasar energi.
Meski demikian, para analis juga mencatat bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh serta perbaikan kondisi geopolitik dapat mengembalikan aliran impor ke level lebih normal. Hal ini akan membantu mengembalikan persediaan ke kisaran yang lebih stabil, meskipun proses pemulihan diperkirakan memerlukan waktu beberapa minggu hingga bulan.
Respon Pemerintah dan Industri
Pemerintah Amerika Serikat diperkirakan akan memantau situasi dengan cermat, mengingat implikasi langsung pada inflasi dan daya beli konsumen. Kebijakan strategis, seperti pelepasan cadangan strategis minyak (Strategic Petroleum Reserve), dapat dipertimbangkan untuk menurunkan tekanan pada pasar domestik. Di sisi lain, industri minyak dan gas diharapkan mempercepat produksi bensin dengan menyesuaikan konfigurasi kilang, meskipun hal ini bersaing dengan margin yang lebih menggiurkan pada diesel dan avtur.
Secara keseluruhan, penurunan pasokan bensin AS menandakan tantangan logistik dan geopolitik yang belum terselesaikan. Konsumen, produsen, dan regulator semua berada dalam posisi menunggu perkembangan berikutnya, dengan harapan bahwa aliran impor dapat pulih dan pasokan domestik kembali stabil sebelum musim panas mencapai puncaknya.
Jika tren ini berlanjut, konsumen Amerika diperkirakan akan menghadapi biaya bahan bakar yang lebih tinggi selama beberapa bulan ke depan, menambah beban pada anggaran rumah tangga di tengah tekanan inflasi yang sudah ada.