Marathon Ekstrem: Lari Bisa Rusak Ginjal, Waspadai Rhabdomyolysis Lari marathon memang baik untuk kebugaran, tapi tetap perlu dilakukan sesuai kemampuan tubuh. Salah satu risiko yang bisa muncul ketika tubuh dipaksa bekerja terlalu berat adalah rhabdomyolysis, kondisi medis serius akibat kerusakan cepat pada jaringan otot rangka. Rhabdomyolysis dapat membebani ginjal dan memicu cedera ginjal akut jika tidak ditangani dengan cepat. Rhabdomyolysis terjadi saat otot mengalami kerusakan berat, lalu melepaskan zat tertentu ke aliran darah. Protein mioglobin dan elektrolit dapat keluar dari sel otot dan masuk ke darah, mengganggu kerja ginjal. Aktivitas fisik berat menjadi salah satu pemicunya, terutama jika dilakukan tanpa persiapan cukup, dehidrasi, atau tetap memaksa berlari saat tubuh sudah kelelahan. ## Apa Pemicu Rhabdomyolysis? Gejala rhabdomyolysis tidak selalu langsung terasa saat berlari. Beberapa tanda bisa muncul dalam satu hingga tiga hari setelah kerusakan otot terjadi. Keluhan yang perlu diperhatikan antara lain tubuh sangat lelah, nyeri atau lemah otot, mual, dehidrasi, buang air kecil berkurang, hingga urine berwarna lebih gelap dari biasanya. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi Tunggul Situmorang mengatakan, kondisi ini bisa muncul ketika seseorang tetap memaksakan aktivitas meski tubuh sudah kelelahan berat. “Dia kelelahan akut. Dipaksakan kok itu, dia udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia,” kata dia. ## Momen Penentu di Menit Akhir Tunggul mengatakan, rhabdomyolysis perlu ditangani cepat agar tidak berkembang menjadi cedera ginjal akut. “Acute kidney injury artinya mendadak. Bisa terlihat kencingnya misalnya menjadi, proteinnya banyak kemudian kegelapan warna kencingnya,” katanya. Ia menjelaskan, perubahan warna urine itu berkaitan dengan mioglobin, yakni protein dari otot yang rusak dan masuk ke aliran darah. “Karena memang mioglobin itu, pecahan protein dari otot. Nah, kalau ini cepat ditangani, sebenarnya reversible itu,” ujarnya. ## Apa Artinya Ini ke Depan? Bagi pelari, tanda seperti kelelahan ekstrem, nyeri otot yang tidak biasa, tubuh lemas, pusing, urine gelap, atau frekuensi buang air kecil menurun sebaiknya tidak diabaikan. Mengejar garis finis memang memberi kepuasan tersendiri. Namun, memaksakan tubuh melewati batas bisa berisiko serius. Jika muncul gejala yang mengarah pada rhabdomyolysis setelah olahraga berat, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan. Menurut Tunggul, rhabdomyolysis sering kali terjadi ketika tubuh dipaksa bekerja terlalu keras tanpa persiapan yang memadai. ## Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh Rhabdomyolysis dapat dicegah dengan pemanasan yang gradual pada awalnya. Kelompok yang paling rentan mengalami kondisi ini adalah para pemula yang belum terbiasa melakukan aktivitas fisik berat. Atlet berpengalaman sekalipun tetap bisa mengalaminya jika melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat secara mendadak atau melampaui batas kemampuan tubuh. Oleh karena itu, penting untuk mendengarkan tubuh dan tidak memaksakan diri untuk melakukan aktivitas yang berat. Jika Anda ingin melakukan olahraga, pastikan Anda melakukan pemanasan yang cukup dan tidak memaksakan diri untuk melakukan aktivitas yang berat. Dengan demikian, Anda dapat menikmati manfaat olahraga sambil menjaga kesehatan tubuh.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260625084744-255-1373025/lari-marathon-bisa-picu-kerusakan-ginjal-kenali-rhabdomyolysis, without altering the facts of the original article.