Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengapresiasi upaya pelestarian adat dan budaya yang masih terjaga di Desa Adat Matabesi, Nusa Tenggara Timur (NTT). Desa adat ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai warisan budaya sekaligus destinasi wisata. Tito menilai, Desa Adat Matabesi memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan destinasi wisata lain di NTT, seperti Wae Rebo.
Kunjungan Mendagri ke Desa Adat Matabesi
Mendagri Tito Karnavian melakukan kunjungan ke Desa Adat Matabesi, NTT, dan mengapresiasi upaya pelestarian adat dan budaya yang masih terjaga di tengah kehidupan modern. Menurutnya, desa adat ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai warisan budaya sekaligus destinasi wisata. Tito kembali mengatakan, desa tersebut mengingatkannya pada Wae Rebo yang juga berada di NTT. Namun, Desa Adat Matabesi memiliki karakteristik tersendiri, mulai dari rumah adat yang telah bertahan ratusan, bahkan mungkin ribuan tahun hingga lingkungan yang masih asri dengan pepohonan berusia tua.
“Kali ini saya lihat ada sesuatu yang lain di sini. Jadi mirip-mirip dengan Wae Rebo, tapi punya kekhasan sendiri, sejarah sendiri. Kalau di sana harus jalan dua jam katanya. Di sini naik mobil langsung jadi. Artinya kemudahan untuk turis lebih mudah,” katanya.
Mengapa Pelestarian Budaya Desa Adat Matabesi Penting?
Pelestarian budaya Desa Adat Matabesi penting karena dapat menjadi warisan bagi generasi mendatang untuk memahami sejarah serta adat dan budaya yang telah hidup selama ratusan tahun. Sejarah Desa Adat Matabesi akan semakin menarik apabila terus digali dan didokumentasikan. Dengan demikian, keberadaannya dapat menjadi warisan budaya yang berkelanjutan.
Mendagri Tito Karnavian juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Belu dalam melestarikan Desa Adat Matabesi. “Saya berterima kasih, apresiasi saya kepada Pak Bupati [Belu] yang melestarikan tempat ini. Makasih, Pak, hanya yang punya passion yang mau begini,” ujarnya.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Keberhasilan pelestarian budaya Desa Adat Matabesi dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam melestarikan warisan budaya. Desa Adat Matabesi dapat menjadi destinasi wisata yang unik dan menarik, sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. Selain itu, pelestarian budaya Desa Adat Matabesi juga dapat menjadi sarana edukasi bagi generasi mendatang untuk memahami sejarah dan adat budaya.
Mendagri Tito Karnavian juga mengunjungi Museum Fohorai yang sedang dibangun di Desa Adat Matabesi. Ia menyebutkan, museum itu akan semakin menarik apabila terus dilengkapi dengan berbagai koleksi yang menggambarkan kehidupan masyarakat adat, tidak hanya tenun, tetapi juga tradisi, pertanian, peternakan, hingga proses pengolahan kemiri.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Pelestarian budaya Desa Adat Matabesi masih memerlukan kerja keras dan komitmen yang kuat dari semua pihak. Desa Adat Matabesi masih perlu didukung dengan infrastruktur yang memadai, seperti jalan, penginapan, dan fasilitas lainnya. Selain itu, masyarakat setempat juga perlu dilibatkan dalam proses pelestarian budaya, sehingga mereka dapat memahami pentingnya melestarikan warisan budaya.
Mendagri Tito Karnavian memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada tetua adat dan masyarakat setempat yang terus menjaga nilai-nilai warisan leluhur. “Saya memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada tetua-tetua adat yang ada di sini. Masyarakat adat yang ini. Di tengah-tengah kehidupan modern. Kita tidak harus berganti dengan modern. Tapi kita bisa mempertahankan dan banyak filosofi-filosofi di masa lalu [yang dipertahankan],” ungkapnya.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://wartakota.tribunnews.com/news/893865/mendagri-tito-apresiasi-pelestarian-budaya-desa-adat-matabesi-dorong-jadi-warisan-budaya, without altering the facts of the original article.