Apa Itu Obstructive Sleep Apnea?
Obstructive sleep apnea terjadi ketika saluran napas berulang kali menyempit atau tertutup selama tidur. Kondisi ini menyebabkan pasokan oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak, berkurang secara berulang. Akibatnya, tubuh mengalami stres berulang setiap malam. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu peningkatan tekanan darah, merusak pembuluh darah, serta meningkatkan risiko terbentuknya sumbatan.
Faktor Risiko dan Gejala
Tidak semua orang yang mendengkur mengalami obstructive sleep apnea. Namun, dengkuran yang keras, terjadi hampir setiap malam, dan disertai jeda napas saat tidur merupakan tanda yang perlu diwaspadai. Salah satu ciri yang paling mudah dikenali adalah adanya henti napas sesaat saat tidur, kemudian penderita tampak tersentak untuk kembali bernapas. Selain itu, penderita OSA juga kerap mengalami daytime sleepiness, yakni rasa kantuk berlebihan pada siang hari meski merasa telah tidur cukup.
Mengapa Sleep Apnea Meningkatkan Risiko Stroke?
Kondisi obstructive sleep apnea lebih sering ditemukan pada orang dengan berat badan berlebih. “Kalau orang gemuk, hati-hati,” kata Rony. Temuan tersebut juga didukung sejumlah penelitian. Studi yang dipublikasikan dalam Frontiers in Neurology menunjukkan bahwa orang yang mendengkur memiliki risiko stroke 46 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mendengkur. Sementara itu, penelitian dalam International Journal of Cardiology menemukan bahwa habitual snoring, atau kebiasaan mendengkur lebih dari tiga malam dalam sepekan, berkaitan dengan peningkatan risiko stroke yang bermakna dibandingkan orang yang tidak mendengkur.
Dampak dan Pencegahan
Mendengkur bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi risiko stroke. Risiko akan semakin tinggi jika disertai hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kebiasaan merokok, maupun riwayat penyakit kardiovaskular dalam keluarga. Karena itu, dr. Rony menyarankan masyarakat, terutama yang berusia di atas 40 tahun atau memiliki faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, untuk rutin menjalani pemeriksaan kesehatan. “Kalau sudah usia 40 tahun, apalagi punya faktor risiko dan riwayat keluarga, sekarang kan sudah mudah, lakukan saja medical check-up,” ujarnya. Bila mendengkur disertai henti napas saat tidur, rasa kantuk berlebihan pada siang hari, atau pasangan sering melihat napas terhenti saat tidur, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Diagnosis dan penanganan sejak dini dapat membantu menurunkan risiko komplikasi serius, termasuk stroke. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya mendengkur dan obstructive sleep apnea. Dengan memahami gejala dan faktor risiko, kita dapat lebih waspada dan proaktif dalam menjaga kesehatan. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika Anda atau pasangan mengalami gejala yang mencurigakan. Dengan langkah-langkah preventif dan penanganan yang tepat, kita dapat mengurangi risiko stroke dan menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260715120415-255-1380951/sering-mendengkur-dokter-sebut-risiko-stroke-naik-hingga-3-kali-lipat, without altering the facts of the original article.