Pertamax vs Pertalite: Mana yang Lebih Mahal Setelah Subsidi?
Pertamax dan Pertalite adalah dua jenis bahan bakar minyak (BBM) yang populer di Indonesia. Kenaikan harga Pertamax baru-baru ini menarik perhatian masyarakat, sementara harga Pertalite tetap stabil. Lantas, mana yang lebih mahal setelah subsidi?
Apa yang Terjadi?
Harga BBM jenis Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara itu, harga Pertalite tetap stabil di level Rp 10.000 per liter. Namun, harga keekonomian Pertalite lebih mahal dari Pertamax yang dijual saat ini. Berdasarkan informasi yang beredar, harga asli Pertalite tanpa subsidi mencapai Rp 18.040 per liter. Artinya, pemerintah memberikan subsidi Pertalite sebesar Rp 8.040 per liter. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M V Dumatubun, membenarkan bahwa beban subsidi yang ditanggung pemerintah sekitar Rp 8.000-an per liter. Kebijakan subsidi BBM sepenuhnya merupakan kewenangan pemerintah, bukan dari Pertamina. Dengan begitu, pihaknya hanya menjalankan penugasan dari pemerintah.
Mengapa dan Dampak
Harga Pertamax dengan RON lebih tinggi saat ini dijual Rp 16.250 per liter tanpa adanya subsidi. Masih lebih murah dari harga ekonomi Pertalite. Menurut Roberth, harga Pertamax belum sepenuhnya sesuai mengacu pada harga keekonomian. VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, mengungkapkan bahwa harga riil Pertamax di pasar saat ini sudah melewati angka Rp 20.000 per liter. Kenaikan harga Pertamax baru-baru ini hanya memenuhi sekitar setengah dari beban yang seharusnya dipikul konsumen. Apabila Pertamax mengacu harga keekonomian yang seharusnya, maka akan lebih mahal dari Pertalite tanpa subsidi.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Kenaikan harga BBM jenis Pertamax dan stabilnya harga Pertalite menimbulkan pertanyaan tentang kebijakan subsidi BBM pemerintah. Walaupun harga Pertamax lebih rendah dari harga keekonomian Pertalite, namun masih belum jelas berapa besar subsidi yang akan diberikan pemerintah ke depannya. Oleh karena itu, masyarakat masih harus menunggu keputusan pemerintah terkait kebijakan subsidi BBM di masa yang akan datang.