Petani Keramba Jalan Apung Banjar Merugi Besar
Petani keramba jalan apung di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, mengalami kerugian besar akibat kematian ikan budidaya yang mencapai 50 ton. Kerugian ini diperkirakan mencapai Rp1,3 miliar. Kejadian ini melanda kawasan Desa Mali-Mali dan Desa Sungai Arfat di Kecamatan Karang Intan, serta Desa Pingaran Ulu di Kecamatan Astambul.
Apa yang Terjadi?
Lebih dari 200 unit keramba dilaporkan terdampak, meski jumlah tersebut masih terus diverifikasi. Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Kabupaten Banjar, Bandi Chairullah, mengatakan pendataan masih terus dilakukan untuk memastikan jumlah keramba, ikan yang mati, hingga besaran kerugian berdasarkan kepemilikan masing-masing pembudidaya. Kematian ikan didominasi jenis bawal, sementara sebagian lainnya merupakan ikan nila.
Mengapa dan Dampak
Menurut Bandi, fenomena ini hampir selalu terjadi saat musim kemarau panjang, terutama di sepanjang aliran Sungai Riam Kanan hingga Sungai Martapura. Penurunan debit air sungai yang tahun ini mencapai lebih dari dua meter membuat kualitas air memburuk. Kondisi tersebut menyebabkan kadar oksigen terlarut (DO) turun drastis hingga berada pada kisaran 0,59-1 mg/liter, jauh di bawah ambang ideal bagi kehidupan ikan. Hal ini berdampak besar pada petani keramba, karena mereka mengalami kerugian yang signifikan. DKPP telah mengeluarkan peringatan dini kepada kelompok pembudidaya melalui surat edaran, siaran radio, dan berbagai media informasi agar bersiap menghadapi penurunan kualitas air selama musim kemarau. Pembudidaya juga disarankan meningkatkan aerasi di keramba dengan menyemprotkan air ke permukaan atau memindahkan ikan ke kolam darat maupun kolam terpal yang dilengkapi sistem aerasi.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Pemerintah daerah, relawan, media, DPRKPLH, serta Dinas Pemadam Kebakaran bekerja sama untuk membersihkan bangkai ikan yang mengapung di sungai. DKPP juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang bangkai ikan ke aliran sungai karena dapat memperburuk pencemaran air dan berdampak pada warga di wilayah hilir yang masih memanfaatkan sungai sebagai sumber air maupun irigasi. Masyarakat diharapkan dapat bekerja sama untuk menjaga sungai dan mencegah kejadian serupa di masa depan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://banjarmasin.tribunnews.com/kalsel/1368691/petani-keramba-jalan-apung-di-banjar-merugi-rp13-miliar-ikan-budidaya-yang-mati-capai-50-ton, without altering the facts of the original article.