Tragedi di Labuhanbatu Utara
Petaka kekerasan kembali melanda Labuhanbatu Utara, Sumatra Utara, ketika empat petani sawit dianiaya oleh petugas keamanan PT Agrinas Palma Nusantara dan aparat yang terhubung dengan militer. Satu di antara empat korban, Sutomi, 31 tahun, meninggal dunia setelah menjadi korban penganiayaan. Kejadian ini kembali memantik pertanyaan tentang keamanan dan keadilan bagi masyarakat lokal di sekitar perkebunan sawit.
Sutomi dan tiga temannya, Luis David Hutabarat, Jhoni, dan Doni Ramadan, pergi ke kebun sawit di Desa Sukarame Baru, Kabupaten Labuhanbatu Utara, pada Selasa, 16 Juni 2026. Mereka bekerja sebagai petani sawit di lahan yang digarap oleh masyarakat. Namun, ketika mereka sedang bekerja, mereka diadang oleh petugas keamanan dan aparat yang mengacu pada tuduhan pencurian tandan buah sawit.
Momen Penentu di Menit Akhir
Sutomi menceritakan bahwa dia dipiting, dipukul di bagian perut, dan diancam dibunuh oleh petugas keamanan. “Begitu setelah saya diadang sama petugas, dia meminta saya untuk jangan pergi ke mana-mana. Saya disuruh angkat tangan, dihantam perut saya sebanyak satu kali,” terangnya.
Sementara itu, korban lainnya, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengaku bahwa mereka tidak melakukan pencurian dan hanya bekerja di kebun sawit yang digarap oleh masyarakat. “Kami bekerja di kebun yang digarap sama masyarakat. Kami sama sekali tidak mencuri,” tandasnya.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Kematian Sutomi dan penganiayaan terhadap tiga temannya membikin keluarga dan masyarakat lokal terpukul. Mereka menuntut keadilan dan berharap pelaku kekerasan dihukum setimpal. “Harapan kami, mudah-mudahan para pelaku diproses dan diadili. Biar bisa merasakan bagaimana sakitnya kami yang ditinggalkan orang tersayang,” sebutnya.
Pegiat di Sawit Watch, organisasi nirlaba yang fokus pada dampak-dampak negatif dari sistem perkebunan sawit skala besar, menuturkan bahwa akar penyebab kekerasan atas petani kecil ialah ketimpangan penguasaan lahan. Perkebunan sawit di Indonesia, menurutnya, dimiliki aktor-aktor ekonomi kelas kakap, sedangkan masyarakat lokal kerap terpinggirkan.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
KontraS Sumatra Utara mendesak kepolisian mencari pelaku yang masih kabur dan menekan bahwa pengusutan kepada salah satu pelaku yang berlatarbelakang tentara aktif harus dilangsungkan di peradilan umum mengingat korbannya adalah warga sipil. Pihak kepolisian sendiri mengaku telah melimpahkan berkas bersangkutan ke militer.
Kejadian di Labuhanbatu Utara kembali memantik pertanyaan tentang keamanan dan keadilan bagi masyarakat lokal di sekitar perkebunan sawit. Jalan panjang yang masih harus ditempuh untuk mencapai keadilan dan keamanan bagi masyarakat lokal masih sangat panjang. Namun, dengan adanya kejadian ini, diharapkan bahwa ke depan akan ada perubahan yang signifikan dalam penanganan kasus-kasus kekerasan di perkebunan sawit.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c39yw31vxnzo?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.