Prof Syawal Gultom Meninggal: Warisan Pendidikan yang Menginspirasi Generasi
Berita Hari Ini β 28 April 2026 | Prof Syawal Gultom, seorang akademisi terkemuka, meninggal dunia pada usia 70 tahun setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia pendidikan Indonesia, terutama bagi para alumni, kolega, dan mahasiswa yang pernah belajar di bawah bimbingannya.
Profil Singkat
Prof Syawal Gultom lahir di Medan pada 1955. Ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di daerah asalnya sebelum melanjutkan studi ke Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU), di mana ia meraih gelar sarjana ekonomi dengan predikat cum laude. Semangatnya untuk ilmu pengetahuan mendorongnya melanjutkan pendidikan pascasarjana di luar negeri, memperoleh gelar Magister Manajemen dari Universitas Manchester, Inggris, dan doktor ekonomi dari Universitas Queensland, Australia.
Karir Akademik
Setelah kembali ke Indonesia, Prof Syawal Gultom memulai karirnya sebagai dosen di USU. Keunggulan dalam pengajaran dan penelitian membuatnya cepat naik jabatan, pertama menjadi lektor, kemudian guru besar pada tahun 2005. Pada 2010, ia diangkat menjadi Dekan Fakultas Ekonomi USU, memimpin sejumlah inovasi kurikulum yang menekankan pada kewirausahaan dan pengembangan daerah.
Puncak karirnya tercapai ketika ia dipercaya menjadi Rektor Universitas Medistra (Unimed) pada tahun 2015. Selama masa kepemimpinannya, Unimed mengalami peningkatan signifikan dalam akreditasi, memperluas kerja sama internasional, dan meluncurkan program-program beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dari wilayah tertinggal.
Kontribusi pada Pendidikan Tinggi
Berbagai inisiatif Prof Syawal Gultom telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan. Ia dikenal sebagai pendukung kuat pendidikan berbasis riset, mendorong dosen untuk terlibat aktif dalam publikasi ilmiah. Di bawah kepemimpinannya, Unimed berhasil meningkatkan jumlah publikasi internasional sebanyak 45% dalam kurun waktu lima tahun.
- Pembentukan Pusat Studi Pembangunan Ekonomi Daerah yang menjadi rujukan bagi pemerintah daerah.
- Peluncuran program magang industri terintegrasi dengan lebih dari 30 perusahaan nasional.
- Peningkatan rasio mahasiswaβdosen dari 30:1 menjadi 20:1, memastikan kualitas pembelajaran lebih personal.
Reaksi dan Kenangan
Berbagai tokoh pendidikan, pejabat pemerintah, serta alumni Unimed dan USU mengungkapkan rasa hormat mereka. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menilai Prof Syawal Gultom sebagai βsalah satu arsitek modernisasi pendidikan tinggi di Indonesiaβ. Mahasiswa yang pernah dibimbingnya menyebutnya sebagai βguru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi untuk berpikir kritis dan berkontribusi pada masyarakatβ.
Dalam sebuah acara peringatan yang diadakan oleh Unimed, rekan-rekan sejawat menyoroti integritas, keteladanan, dan dedikasi Prof Syawal Gultom yang selalu menempatkan kepentingan mahasiswa di atas kepentingan pribadi. Banyak yang mengingat kebiasaannya menghabiskan waktu ekstra di kantor dosen, membantu mahasiswa menyelesaikan tugas akhir, serta memberikan nasihat karier secara personal.
Warisan Prof Syawal Gultom tidak hanya terletak pada prestasi akademik, melainkan juga pada nilai-nilai humanis yang ia tanamkan. Ia selalu menekankan pentingnya etika, kejujuran, dan rasa tanggung jawab sosial dalam setiap tindakan akademik. Kebijakannya yang inklusif membuka peluang bagi mahasiswa dari latar belakang kurang mampu untuk mengakses pendidikan berkualitas.
Kepergian Prof Syawal Gultom menjadi momentum bagi seluruh civitas akademika untuk melanjutkan perjuangannya. Diharapkan semangat inovasi, kolaborasi, dan pelayanan publik yang ia tunjukkan akan terus mengalir dalam kebijakan dan program pendidikan di masa depan.
Dengan segala pencapaian dan dedikasinya, Prof Syawal Gultom akan selamanya dikenang sebagai sosok yang mengubah wajah pendidikan tinggi Indonesia, menjadikannya lebih responsif, berdaya saing, dan berorientasi pada pembangunan bangsa.