Cara Memulai Bisnis Digital dengan Modal Kecil Sebagai Reseller Digital
Kompetitif**Renungan Pemuda GMIM: 1 Tawarikh 29:17-29, Hati yang Baik dan Hati yang Jujur** Sobat Obor, ada ungkapan yang mengatakan hatiku adalah rajaku. Ungkapan ini mempunyai pengertian bahwa hati adalah pusat kendali dalam kehidupan manusia yang mengatur serta menentukan seluruh tindakan kita. Saat hati âdikeraskanâ maka sulit bagi manusia untuk menerima permohonan maaf ataupun memaafkan orang lain. Akan tetapi sebaliknya jika hati âdilembutkanâ maka manusia dapat dengan mudah menerima permohonan rasa bersalah orang lain kepada kita dan kemudian dapat memaafkan kesalahan orang lain. **Momen Penentu di Menit Akhir** Dalam bacaan kita hari ini, raja Daud tiga kali menggunakan kata yang berhubungan dengan hati. Pertama di ayat 17, ia mengatakan bahwa Allah adalah penguji hati (Ibr. bakhan, memeriksa, menyelidiki dengan teliti) dan berkenan (Ibr. ratsa`, menerima dengan senang hati) kepada keihklasan (TB 2, ketulusan dari bah. Ibr. yosher, kejujuran, kebenaran) persembahan. Kedua di ayat 18, kecenderungan hati (Ibr. makhashabah, rancangan-rancangan) yang tetap ditujukan kepada Tuhan, dan yang ketiga di ayat 19, permohonan raja Daud agar anaknya Salomo diberikan hati yang tulus (Ibr. lebab shalem, hati yang tulus ikhlas), sehingga dengan demikian ia mampu mendirikan bait Tuhan yang persiapannya telah dilakukan oleh raja Daud. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Melalui bacaan hari ini, kita semua terpanggil untuk hidup memelihara hati yang tulus, jujur, dan benar di hadapan Tuhan. Bagaimanakah dengan hati kita? Apakah kita siap diuji atau diselidiki oleh Tuhan bahwa hati kita benar-benar jujur dan benar sehingga berkenan kepada-Nya? Apakah hati kita selalu ada sukacita setiap hari? Kita harus berusaha untuk memiliki hati yang baik dan jujur, sehingga kita dapat memenuhi keinginan Tuhan dan melakukan pekerjaan-Nya. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Dalam bacaan kita hari ini, kita dapat menemukan beberapa fakta yang menarik. Pertama, raja Daud menggunakan kata “penguji” untuk menggambarkan Allah sebagai penguji hati. Ini menunjukkan bahwa Allah sangat peduli dengan hati kita dan ingin kita memiliki hati yang jujur dan benar. Kedua, raja Daud juga menggunakan kata “tulus” untuk menggambarkan hati yang harus kita miliki. Ini menunjukkan bahwa kita harus memiliki hati yang tulus dan ikhlas dalam melakukan pekerjaan Tuhan. Ketiga, raja Daud memohon kepada Tuhan agar anaknya Salomo diberikan hati yang tulus, sehingga ia dapat mendirikan bait Tuhan. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Melalui bacaan hari ini, kita semua dapat belajar untuk memiliki hati yang baik dan jujur. Kita harus berusaha untuk memiliki hati yang tulus dan ikhlas dalam melakukan pekerjaan Tuhan. Kita juga harus siap diuji atau diselidiki oleh Tuhan, sehingga kita dapat memenuhi keinginan-Nya dan melakukan pekerjaan-Nya. Dengan demikian, kita dapat memiliki hati yang berkenan kepada Tuhan dan hidup dalam sukacita setiap hari. Amin.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://manado.tribunnews.com/lifestyle/1884621/obor-pemuda-gmim-renungan-sabtu-18-juli-2026-1-tawarikh-2917-29-hati, without altering the facts of the original article.