**Teknologi AI Mengganggu: Apakah Anda Bisa Membedakan Wajah Manusia Asli dengan Ciptaan?** **Momen Penentu di Menit Akhir** Pegawai di Hong Kong baru-baru ini menjadi korban penipuan yang menggunakan teknologi AI untuk menciptakan wajah ciptaan yang sangat realistis. Dalam sebuah panggilan video, pegawai itu bergabung dengan rekan-rekannya untuk membahas akuisisi rahasia, namun setelah mengirimkan pembayaran sebesar US$25 juta, pegawai itu menyadari bahwa dirinya telah ditipu. Setiap orang yang ikut dalam panggilan tersebut, termasuk kepala bagian keuangan, ternyata adalah deepfake yang dihasilkan oleh AI. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** * Penipuan yang menggunakan AI diproyeksikan akan mencapai US$40 miliar pada tahun depan di AS, menurut laporan dari perusahaan konsultan Deloitte. * Profesor Amy Dawel, seorang psikolog di Universitas Nasional Australia (ANU), ingin mengetahui apakah kita semua dapat dilatih untuk mengenali wajah yang diciptakan oleh AI. * Penelitian menunjukkan bahwa khalayak umum sulit mengenali wajah buatan AI, sehingga Profesor Dawel ingin menemukan solusi untuk mengatasi masalah ini. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Kesulitan dalam mengenali wajah buatan AI memiliki dampak nyata yang memengaruhi kita semua, kata Profesor Dawel. Penipuan identitas, penipuan di situs kencan, dan penargetan rekening bank kita adalah beberapa contoh dari dampak yang dapat terjadi. Oleh karena itu, sangat penting untuk menemukan cara untuk mengenali wajah ciptaan AI dan menghindari penipuan yang menggunakan teknologi ini. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Profesor Dawel dan timnya telah melakukan penelitian untuk menemukan solusi untuk mengatasi masalah ini. Mereka telah menguji pendekatan baru untuk melatih orang untuk mengenali wajah ciptaan AI. Dalam sebuah studi, tim mereka memeriksa seberapa baik 45 orang dewasa dapat mengenali wajah ciptaan AI. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata mereka benar sebesar 41%. Namun, setelah menjalani pelatihan selama sekitar satu jam, mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk mengenali wajah ciptaan AI. Oleh karena itu, masih banyak jalan panjang yang harus ditempuh untuk mengatasi masalah ini. Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi AI telah berkembang sangat cepat dan telah digunakan dalam berbagai bidang, termasuk penipuan. Penipuan yang menggunakan AI telah menjadi masalah serius di banyak negara, termasuk AS. Menurut laporan dari perusahaan konsultan Deloitte, penipuan yang menggunakan AI diproyeksikan akan mencapai US$40 miliar pada tahun depan di AS. Hal ini menunjukkan bahwa masalah ini sangat serius dan perlu diatasi segera. Profesor Amy Dawel, seorang psikolog di Universitas Nasional Australia (ANU), ingin mengetahui apakah kita semua dapat dilatih untuk mengenali wajah yang diciptakan oleh AI. Ia berpikir bahwa penelitian dapat membantu menemukan solusi untuk mengatasi masalah ini. Penelitian menunjukkan bahwa khalayak umum sulit mengenali wajah buatan AI, sehingga Profesor Dawel ingin menemukan cara untuk mengatasi masalah ini. Dalam sebuah studi, tim Profesor Dawel memeriksa seberapa baik 45 orang dewasa dapat mengenali wajah ciptaan AI. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata mereka benar sebesar 41%. Namun, setelah menjalani pelatihan selama sekitar satu jam, mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk mengenali wajah ciptaan AI. Mereka diminta menilai setiap wajah berdasarkan enam karakteristik keseluruhan: kekhasan, daya ingat, ekspresivitas, simetri, proporsionalitas, dan daya tarik. Hasilnya menunjukkan bahwa wajah manusia cenderung lebih khas, mudah diingat, dan ekspresif, sedangkan wajah ciptaan AI cenderung lebih rata-rata dan kurang menarik. Penelitian Profesor Dawel menunjukkan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Karena algoritma AI cenderung mengambil rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah yang digunakan untuk pelatihannya, “wajah AI sebenarnya terlihat lebih rata-rata, atau hiperrata-rata, dibandingkan dengan wajah manusia,” kata Profesor Dawel. Hal ini “membuat mereka merasa sedikit lebih dapat dipercaya, terlihat sedikit lebih menarik, dan terasa lebih akrab” daripada wajah manusia asli. Namun, studi tersebut hanya meneliti wajah-wajah kulit putih yang dihasilkan oleh AI. Algoritma AI cenderung dilatih secara tidak proporsional pada wajah-wajah kulit putih, jadi ada kemungkinan wajah-wajah ini tampak sangat realistis dibandingkan dengan yang lain. Maka dari itu, penelitian Profesor Dawel masih terbatas dan perlu dilanjutkan untuk mengetahui bagaimana wajah-wajah kulit berbeda dapat diakui. Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi AI telah berkembang sangat cepat dan telah digunakan dalam berbagai bidang, termasuk penipuan. Penipuan yang menggunakan AI telah menjadi masalah serius di banyak negara, termasuk AS. Menurut laporan dari perusahaan konsultan Deloitte, penipuan yang menggunakan AI diproyeksikan akan mencapai US$40 miliar pada tahun depan di AS. Hal ini menunjukkan bahwa masalah ini sangat serius dan perlu diatasi segera. Profesor Amy Dawel, seorang psikolog di Universitas Nasional Australia (ANU), ingin mengetahui apakah kita semua dapat dilatih untuk mengenali wajah yang diciptakan oleh AI. Ia berpikir bahwa penelitian dapat membantu menemukan solusi untuk mengatasi masalah ini. Penelitian menunjukkan bahwa khalayak umum sulit mengenali wajah buatan AI, sehingga Profesor Dawel ingin menemukan cara untuk mengatasi masalah ini. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menemukan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Karena algoritma AI cenderung mengambil rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah yang digunakan untuk pelatihannya, “wajah AI sebenarnya terlihat lebih rata-rata, atau hiperrata-rata, dibandingkan dengan wajah manusia,” kata Profesor Dawel. Hal ini “membuat mereka merasa sedikit lebih dapat dipercaya, terlihat sedikit lebih menarik, dan terasa lebih akrab” daripada wajah manusia asli. Namun, studi tersebut hanya meneliti wajah-wajah kulit putih yang dihasilkan oleh AI. Algoritma AI cenderung dilatih secara tidak proporsional pada wajah-wajah kulit putih, jadi ada kemungkinan wajah-wajah ini tampak sangat realistis dibandingkan dengan yang lain. Maka dari itu, penelitian Profesor Dawel masih terbatas dan perlu dilanjutkan untuk mengetahui bagaimana wajah-wajah kulit berbeda dapat diakui. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menemukan bahwa wajah ciptaan AI lebih sulit diakui daripada wajah manusia yang sesungguhnya. Penelitian Profesor Dawel menunjukkan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Karena algoritma AI cenderung mengambil rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah yang digunakan untuk pelatihannya, “wajah AI sebenarnya terlihat lebih rata-rata, atau hiperrata-rata, dibandingkan dengan wajah manusia,” kata Profesor Dawel. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menemukan bahwa wajah ciptaan AI lebih sulit diakui daripada wajah manusia yang sesungguhnya. Penelitian Profesor Dawel menunjukkan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Karena algoritma AI cenderung mengambil rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah yang digunakan untuk pelatihannya, “wajah AI sebenarnya terlihat lebih rata-rata, atau hiperrata-rata, dibandingkan dengan wajah manusia,” kata Profesor Dawel. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menemukan bahwa wajah ciptaan AI lebih sulit diakui daripada wajah manusia yang sesungguhnya. Penelitian Profesor Dawel menunjukkan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Karena algoritma AI cenderung mengambil rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah yang digunakan untuk pelatihannya, “wajah AI sebenarnya terlihat lebih rata-rata, atau hiperrata-rata, dibandingkan dengan wajah manusia,” kata Profesor Dawel. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menemukan bahwa wajah ciptaan AI lebih sulit diakui daripada wajah manusia yang sesungguhnya. Penelitian Profesor Dawel menunjukkan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Karena algoritma AI cenderung mengambil rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah yang digunakan untuk pelatihannya, “wajah AI sebenarnya terlihat lebih rata-rata, atau hiperrata-rata, dibandingkan dengan wajah manusia,” kata Profesor Dawel. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menemukan bahwa wajah ciptaan AI lebih sulit diakui daripada wajah manusia yang sesungguhnya. Penelitian Profesor Dawel menunjukkan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Karena algoritma AI cenderung mengambil rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah yang digunakan untuk pelatihannya, “wajah AI sebenarnya terlihat lebih rata-rata, atau hiperrata-rata, dibandingkan dengan wajah manusia,” kata Profesor Dawel. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menemukan bahwa wajah ciptaan AI lebih sulit diakui daripada wajah manusia yang sesungguhnya. Penelitian Profesor Dawel menunjukkan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Karena algoritma AI cenderung mengambil rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah yang digunakan untuk pelatihannya, “wajah AI sebenarnya terlihat lebih rata-rata, atau hiperrata-rata, dibandingkan dengan wajah manusia,” kata Profesor Dawel. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menemukan bahwa wajah ciptaan AI lebih sulit diakui daripada wajah manusia yang sesungguhnya. Penelitian Profesor Dawel menunjukkan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Karena algoritma AI cenderung mengambil rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah yang digunakan untuk pelatihannya, “wajah AI sebenarnya terlihat lebih rata-rata, atau hiperrata-rata, dibandingkan dengan wajah manusia,” kata Profesor Dawel. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menemukan bahwa wajah ciptaan AI lebih sulit diakui daripada wajah manusia yang sesungguhnya. Penelitian Profesor Dawel menunjukkan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Karena algoritma AI cenderung mengambil rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah yang digunakan untuk pelatihannya, “wajah AI sebenarnya terlihat lebih rata-rata, atau hiperrata-rata, dibandingkan dengan wajah manusia,” kata Profesor Dawel. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menemukan bahwa wajah ciptaan AI lebih sulit diakui daripada wajah manusia yang sesungguhnya. Penelitian Profesor Dawel menunjukkan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Karena algoritma AI cenderung mengambil rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah yang digunakan untuk pelatihannya, “wajah AI sebenarnya terlihat lebih rata-rata, atau hiperrata-rata, dibandingkan dengan wajah manusia,” kata Profesor Dawel. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menemukan bahwa wajah ciptaan AI lebih sulit diakui daripada wajah manusia yang sesungguhnya. Penelitian Profesor Dawel menunjukkan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Karena algoritma AI cenderung mengambil rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah yang digunakan untuk pelatihannya, “wajah AI sebenarnya terlihat lebih rata-rata, atau hiperrata-rata, dibandingkan dengan wajah manusia,” kata Profesor Dawel. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menemukan bahwa wajah ciptaan AI lebih sulit diakui daripada wajah manusia yang sesungguhnya. Penelitian Profesor Dawel menunjukkan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Karena algoritma AI cenderung mengambil rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah yang digunakan untuk pelatihannya, “wajah AI sebenarnya terlihat lebih rata-rata, atau hiperrata-rata, dibandingkan dengan wajah manusia,” kata Profesor Dawel. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menemukan bahwa wajah ciptaan AI lebih sulit diakui daripada wajah manusia yang sesungguhnya. Penelitian Profesor Dawel menunjukkan bahwa wajah ciptaan AI lebih sering disangka wajah manusia daripada wajah manusia yang sesungguhnyaâsebuah fenomena yang mereka sebut hiperrealisme AI. Karena algoritma AI cenderung mengambil rata-rata matem
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c2dkjed688ro?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.