Rusia Tuduh Inggris Langsung Ikut Serangan AS ke Iran, Sementara Tehran dan Washington Bercanda di Meja Perundingan yang Gagal
Berita Hari Ini – 14 April 2026 | JAKARTA, 13 April 2026 – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak usai Rusia menuduh Inggris terlibat langsung dalam serangan Amerika Serikat terhadap Iran. Tuduhan tersebut muncul bersamaan dengan kegagalan perundingan damai antara Tehran dan Washington yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, serta pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin yang menawarkan diri sebagai mediator utama untuk menstabilkan kawasan.
Rusia menuding Inggris, mengkritik peran Amerika
Dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di Moskow, Kremlin menegaskan bahwa Inggris telah memberikan dukungan logistik dan intelijen kepada Amerika Serikat dalam operasi militer yang dilancarkan pada 28 Februari 2026. Menurut pejabat tinggi Rusia, peran London tidak bersifat pasif; ia menyediakan jaringan komunikasi serta membantu dalam perencanaan serangan yang menargetkan instalasi strategis Iran. Tuduhan ini menambah daftar panjang perselisihan diplomatik antara Moskow dan London, yang telah berlangsung sejak invasi Ukraina.
Putin siap memediasi, Iran menghubungi Rusia
Tak lama setelah kegagalan perundingan antara Iran dan AS, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menghubungi Putin melalui telepon. Dalam percakapan itu, Putin menyatakan kesediaannya untuk memfasilitasi penyelesaian politik yang adil dan abadi di Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa Rusia akan terus melakukan kontak aktif dengan semua pihak berkepentingan, termasuk Inggris, untuk menurunkan ketegangan yang memuncak setelah serangan tersebut.
Gagalnya perundingan Tehran‑Washington
Delegasi Amerika Serikat, dipimpin Wakil Presiden JD Vance, meninggalkan Islamabad setelah dua hari perundingan maraton yang tidak menghasilkan kesepakatan. Vance menyampaikan bahwa Washington telah mengajukan “tawaran terakhir dan terbaik” kepada Tehran, namun pihak Iran menilai tawaran tersebut tidak memadai, terutama terkait kontrol Selat Hormuz, program nuklir, dan kompensasi atas kerusakan infrastruktur energi. Dari sisi Iran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei menegaskan bahwa keberhasilan negosiasi tergantung pada itikad baik Washington, yang dianggapnya menuntut hal berlebihan.
Kerugian manusia dan ekonomi yang meluas
Serangan AS pada 28 Februari menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta menimbulkan lebih dari 2.000 korban jiwa di dalam negeri. Iran membalas dengan serangan terhadap instalasi militer AS dan Israel di wilayah Teluk, menewaskan 13 tentara Amerika dan melukai ratusan lainnya. Di pihak Israel, 26 orang tewas dan lebih dari 7.000 luka-luka dilaporkan. Dampak ekonomi pun terasa; harga minyak dunia melonjak tajam, sementara jalur pelayaran di Selat Hormuz mengalami gangguan signifikan.
Reaksi internasional dan implikasi geopolitik
Komunitas internasional terbagi dalam menanggapi situasi. Sementara sebagian negara Barat menuduh Iran melanggar resolusi PBB terkait proliferasi nuklir, negara-negara non‑blok seperti Turki dan India menyerukan dialog konstruktif yang melibatkan semua pihak, termasuk Rusia dan Inggris. Tuduhan Rusia terhadap Inggris menambah beban diplomatik bagi London, yang kini harus membuktikan keterlibatannya atau menolak tuduhan tersebut di forum PBB.
Secara keseluruhan, krisis ini menegaskan betapa kompleksnya dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, di mana kepentingan strategis Amerika, Inggris, Rusia, dan Iran bersinggungan. Dengan negosiasi damai yang masih terhenti, ancaman eskalasi militer tetap tinggi, dan peran Rusia sebagai penengah dapat menjadi faktor penentu dalam meredakan ketegangan.