Transformasi Karier Lulusan SMK: Dari Ruang Kelas Menuju Dunia Industri Berpenghasilan Tinggi di Era Digital
KompetitifMembangun Portofolio Sejak SMK: Strategi Efektif Menarik Perhatian Perusahaan Besar dan Meningkatkan Peluang Karier Profesional
KompetitifPengamat ekonomi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengkritik pemerintah terkait peran wasit dan pelatih dalam Koperasi Merah Putih (KMP) dan koperasi swadaya yang dinilai bertentangan. KMP yang dibentuk pemerintah untuk menjadi motor ekonomi desa dianggap berpotensi kanibalistik terhadap koperasi lama yang sudah berdiri. Pemerintah diminta untuk tidak hanya berperan sebagai pemberi modal, tetapi juga sebagai wasit dan pelatih yang memfasilitasi dan mendampingi koperasi swadaya.
Koperasi Merah Putih: Antara Harapan dan Kenyataan
Koperasi Merah Putih dibentuk dengan tujuan menjadi motor ekonomi desa, namun kenyataannya banyak yang dilaporkan sepi setelah diresmikan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk usaha yang dijalankan tidak sesuai kebutuhan desa, kapasitas SDM pengurus belum siap, masih bergantung pada dana awal pemerintah, serta minimnya sosialisasi membuat masyarakat tidak memiliki rasa memiliki terhadap koperasi tersebut.
Momen Penentu di Menit Akhir
Menurut pengamat ekonomi, koperasi yang dibentuk secara top-down memiliki risiko lebih besar untuk tidak bertahan dibanding koperasi yang tumbuh dari kebutuhan masyarakat. Prinsip koperasi adalah dari, oleh, dan untuk anggota. Koperasi yang lahir dari bawah biasanya memiliki rasa memiliki yang tinggi karena anggotanya terlibat sejak awal. Sebaliknya, koperasi yang dibentuk karena target sering kali memiliki pengurus yang ditunjuk dan jenis usaha yang tidak sesuai dengan potensi desa.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Jika Koperasi Merah Putih tidak dikelola berdasarkan kebutuhan lokal dan justru bersaing dengan koperasi lama, maka yang terjadi adalah duplikasi kelembagaan dan kebingungan masyarakat. Pemerintah sebaiknya hanya memfasilitasi di awal, sedangkan pengelolaan usaha tetap digerakkan oleh masyarakat. Apabila koperasi swadaya kehilangan anggota akibat hadirnya koperasi baru, risikonya cukup besar. Permodalan akan melemah karena simpanan anggota berkurang, sisa hasil usaha ikut menurun, hingga skala usaha semakin kecil.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Untuk membuat Koperasi Merah Putih benar-benar menjadi motor ekonomi desa, pemerintah perlu memetakan kebutuhan setiap desa sebelum menentukan jenis usaha, memperkuat kapasitas pengurus melalui pelatihan, memastikan usaha mampu menghasilkan arus kas sejak awal, membangun kemitraan dengan koperasi lama, serta menerapkan tata kelola yang transparan melalui RAT dan laporan keuangan yang terbuka. Pemerintah harus berperan sebagai wasit sekaligus pelatih, bukan sekadar pemberi modal. Pendampingan juga harus dilakukan secara berkelanjutan agar koperasi tidak berhenti hanya sebagai proyek administratif.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://banjarmasin.tribunnews.com/kalsel/1368313/membangun-kmp-dan-koperasi-swadaya-pengamat-ekonomi-ulm-pemerintah-menjadi-wasit-sekaligus-pelatih, without altering the facts of the original article.